Selasa, 22 Februari 2011

NASKAH DRAMA UJI PRAKTIK BAHASA INDONESIA

LAMPIRAN NASKAH DRAMA

(PILIHLAH SATU NASKAH DRAMA, KEMUDIAN EDITLAH NASKAH TERSEBUT SUPAYA DAPAT DIMAINKAN DALAM WAKTU 10 MENIT)



Naskah Drama 1.

”ATAS NAMA IBU”

Karya Ajenk Budi Astuty
Siswi kelas XI IPS1 SMA Stella Duce 2 Yogyakarta
Jl. Dr. Sutomo 16 Yogyakarta Telp (0274)513129

Para Pemain:
1. Dina
2. Teman 1 : Santi
3. Teman 2 : Monika
4. Teman 3 : Nike
5. Tetangga : Budhe Tato
6. Pak RT
7. Pak Polisi : Pak Waskito, ayah Monika
8. Dokter : Widi
9. Suster

PROLOG :
Cinta seorang anak kepada ibunya...
Tidak bisa diukur hanya dengan meteran, timbangan,
bahkan di awang-awang
Tak juga bisa terselami bagai samudra bahkan sungai atau pun parit sekalipun.
Namun...
Karena hati sang anak terlanjur tersayat
Karena ratapan-ratapan mayat hidup sang ibu,
Maka atas nama ibu, sang anak akan menyiapkan nyanyian dan tarian
di atas tangisnya sendiri, hanya untuk sang ibu

PANGGUNG BERSETTINGKAN RUANG TAMU RUMAH DINA. TAMPAK DINA DAN TEMAN-TEMANNYA SEDANG BELAJAR KELOMPOK.
Dina : Jadi, soal ini penyelesaiannya harus menggunakan rumus yang pertama!
Teman 1 : Lha, kalo soal nomer 28 ini gimana, Din?
Dina : Ini...( SAMBIL MENUNJUK BUKU ) ada contohnya, kok! Ini penyelesaiannya pake rumus yang keempat. Coba sini kucari penyelesaiannya.

DINA MULAI MENGERJAKAN.
Teman 2 : Wah...wah...kamu pinter banget ya, Din?! Aku yang ikutan les dua kali seminggu aja, kalah sama kamu!

DINA HANYA TERSENYUM.
Teman 3 : Iya, lho, Din. Aku dulu sempat iri sama kamu. Kamu itu baik, pinter, cantik pula! Kurang apa coba?

DINA HANYA TERSENYUM.
Teman 2 : Kurangnya Dina itu.....dia keseringan sakit gigi, sariawan, dan...pokoknya semua penyakit mulut, deh! Makanya ..Dina itu jadi diem terus karna ngggak pede ngomong!!

SEMUANYA TERTAWA.
Teman 1 : Ah...udahan bercandanya! Nanti tugasnya nggak selesai-selesai, loh!kurang dikit lagi, nih!!

MEREKA SIBUK LAGI. LALU MUNCUL TETANGGA DINA.
Tetangga : Hallo, Nak Dina?! Selamat malam....
DINA DAN TEMAN-TEMANNYA KAGET. MEREKA LALU MEMANDANGI TETANGGA ITU.
Tetangga : Wah...wah...wah... baru belajar kelompok, ya? Begini, Budhe bawa sup jagung kesukaan Nak Dina! Seperti biasa.... karena ibu Nak Dina belum sembuh-sembuh juga, jadi, Budhe yang masakin masakan buat Nak Dina!!

DINA DAN TEMAN-TEMANNYA SALING BERPANDANGAN. TEMAN-TEMAN DINA BINGUNG.
Dina : ya... udah, Budhe! Tolong taruh di meja itu saja! Setelah selesai tugas ini, nanti saya makan.
Tetangga : Bener lho, Nak Dina! Nanti dimakan! Eh.... Budhe sekalian mau nengok ibu Nak Dina. ( SAMBIL MENUNJUK SEBUAH PINTU KAMAR )
Dina : Ya! Silakan, Budhe! ( DINA DIAM SEBENTAR LALU MENGALIHKAN DIRI KE TEMAN-TEMANNYA) yuk.... kita terusin!
Teman 3 : Iya, tinggal satu nomer lagi kita selesai.
Teman 2 : Iya!

TETANGGA YANG TADINYA KELUAR PANGGUNG, MASUK LAGI. SEMUA PERHATIAN LALU MENGARAH PADA TETANGGA.
Tetangga : Eh..Nak Dina! Maaf, ya?! Budhe ndak berani deket-deket dengan ibu Nak Dina! Budhe takut kalau-kalau penyekit ibu Nak Dina menular! Eh.. iya..! sebenarnya... ibu Nak Dina itu, sakit apa, sih? (SAMBIL SEDIKIT CENGENGESAN)

DINA DIAM. IA PURA-PURA SIBUK MENGERJAKAN TUGAS. TEMAN-TEMAN DINA MALAH SALING BERPANDANGAN.
Tetangga : Ya sudah! Ya sudah! Lebih baik, Budhe pulang saja. Takut mengganggu!

SETELAH TETANGGA BERJALAN BEBERAPA LANGKAH......
Tetangga : (SETENGAH BERBISIK) Eh.... hati-hati lho, Nak Dina! Tadi Budhe sempet melihat suster meminumi obat untuk ibu Nak Dina. Nak Dina harus tahu apa jenis obat-obatan yang ibu Nak Dina minum. Jangan-jangan.... mereka salah ngasih obat! Sekarang ini, lagi gempar-gemparnya malpraktek, loh!!

DINA TETAP PURA-PURA SIBUK. DIAM HANYA TEMAN-TEMANNYA SAJA YANG SALING BERPANDANGAN. BINGUNG.
Tetangga : Ya, sudah! Kayaknya, Budhe benar-benar mengganggu belajar kalian. Budhe pulang dulu, ya?! Selamat malam.........

TETANGGA KELUAR. HENING. TIBA-TIBA TERDENGAR SUARA SEORANG WANITA YANG TERBATUK-BATUK. SEMUANYA KAGET.
Teman 1 : Din...itu...ii.ibumu, ya?
Dina : Iya.
Teman 1 : Masih sakit, ya? Bukannya ibumu habis opname? Sebenernya..... ibumu itu...sakit apa sih, Din?

DINA HANYA DIAM. MENUNDUK.
Dina : Udah selesai, khan? Udah melem, nih! Mendingan kalian pulang saja! Aku harus menemani ibuku. Walupun masih ada perawat di sini, akutetap harus merawat dan menemani ibuku!

SEMUA TEMAN DINA KAGET. MEREKA SALING MEMANDANG.
Teman 2 : Ya, sudah. Kita pulang dulu ya, Din?
Teman 1 : Dah, Din ... kita pulang... sampe ketemu beso, ya?!

TEMAN-TEMAN KELUAR. RUANG TAMU SEPI. TINGGAL DINA SENDIRI.
DINA DUDUK DI KURSI. MULAI MENANGIS.
Dina : (Monolog) Apa yang harus kulakukan, Tuhan.... aku begitu mencintainya. aku tak berdaya melihat ketidakberdayaannya.(DIAM). Apa.... aku ceritakan saja...Ah! Jangan! (SAMBIL MENGUSAP AIR MATA). Lebih baik..aku saja yang ...........

TIBA-TIBA SUSTER MASUK.
Dina : (KAGET). Ah... Suster!(MENGHAPUS AIR MATA). Ada apa, Sus? Em... apa.....
Suster : Nggak ada apa-apa, kok!!Ibumu baru saja kuminumi obat. Sekarang, ia tidur. Tolong temani di sebentar, ya? Saya mau ke warung sekalian mau menghubungi Dokter Widi, mau konsultasi tentang kesehatan ibumu.
Dina : Ya.. silakan..(SAMBIL TERSENYUM).

SUSTER MENINGGALKAN PANGGUNG. DINA SENDIRI LAGI. IA MELAMUN . PANDANGANNYA KOSONG. SETELAH AGAK LAMA, IA LALU BERDIRI DAN MEMANDANG SALIB YANG ADA DI DINDING.
Dina : Maaf, Tuhan, malam ini aku akan melakukannya........

DINA KELUAR PANGGUNG (SEOLAH-OLAH MASUK KE DALAM KAMAR IBUNYA). SETELAH GAK LAMA, IA LALU MASUK KE PANGGUNG LAGI. IA LALU DUDUK. MELAMUN LAGI.
SUSTER MASUK BERSAMAAN DENGAN TEMAN-TEMAN DINA.
Suster : Dina...teman-temanmu yang tadi kesini, mencarimu lagi. Tuh!(SAMBIL MENUNJUK KEARAH DATANGNYA TEMAN DINA). Saya mau melihat ibumu dulu. Sebentar lagi Dokter Widi mau datang ngecek ibumu.
Teman 2 : Eh, Din, sorry...tadi aku lupa. Besok lusa, kita ada ulangan, khan? Aku mau pinjem bukumu....(SAMBIL MELIHAT DINA). Loh..Din, kamu kenapa? Sakit?
Teman 1 : Iya! Cerita, dong, kalau ada masalah!

DINA HANYA DIAM. SUSTER LALU MASUK.
Suster : Dina! Ibumu tiba-tiba saja kritis! Cepat cari bantuan! Kalian Juga!!

SUSTER KELUAR LAGI. SEMUANYA PANIK DAN SIBUK SENDIRI-SENDIRI. ADA YANG TELPONE, ADA YANG BERDOA, DAN ADA YANG MONDAR-MANDIR KELUAR MASUK PANGGUNG UNTUK MENCARI BANTUAN TETANGGA. TETAPI DINA TETAP DUDUK DAN DIAM.
Teman 3 : Din, kupanggilin tetanggamu, ya? (SAMBIL KELUAR PANGGUNG).
Teman 2 : Bapa kami yang ada di surga......
Teman 1 : Halo!Pak RT! Pak, tolong..ibunya Dina sekarat..eh..maksud saya... kritis! Ya, sekarang! Cepet ya, Pak!

DINA YANG TADINYA DIAM MULAI MENITIKKAN AIR MATA.
Teman 2 : Ayo, Din! Kita berdoa supaya ibumu selamat! Salam Maria.....
Teman 1 : Din, sudahlah! Jangan menangis terus! Pasti ibumu selamat! Lagian...kata suster, sebentar lagi Dokter Widi Mau datang!(MERANGKUL DINA).

DOKTER DATANG BERSAMAAN TEMAN 3 DAN TETANGGA DINA DAN JUGA PAK RT.
Teman 1 : Nah, itu Dokter Widi!Cepet, Dok!Langsung ke kamar aja! Ibu Dina kritis!
Dokter : Ya, saya tahu dari Pak RT. Kebetulan tadi ketemu di jalan. Baik, saya memeriksa ibumu dulu.(SAMBIL KELUAR PANGGUNG).
Tetangga : Nak Dina! Perasaan...waktu Budhe tengok...Ibu Nak Dina ndak apa-apa, tuh!
Kok tiba-tiba jadi kritis, ya?!
Pak RT : Kok kemarin-kemarin, Mbak Dina mboten ngasih kabar saya kalau ibunya Mbak Dina gerah ?

DINA HANYA MENANGIS. TIBA-TIBA DOKTER MASUK BESERTA SUSTER. MEREKA MENDEKATI DINA. SEMUANYA TERLIHAT CEMAS.
Dokter : (MENEPUK PUNDAK DINA). Maaf, Dina. Saya dan Suster telah berusaha semaksimal mungkin...namun... Tuhan berkehendak lain...
Dina : Saya tahu, Dok!

SEMUA KAGET. DINA KEMBALI DIAM.
Suster : Dina... kamu harus bisa menerima kehendak Tuhan ini...
Dina : Ya....aku tahu...
Dokter : Dina..ada sesuatu yang mengganjal tentang kematian ibumu. Dia meninggal...seperti habis diracuni.

SEMUANYA KAGET. TANGISAN DINA TAMBAH MELEDAK.
TETANGGA LALU MENDEKATI DINA.
Tetangga : Nak Dina, seperti yang sudah Budhe bilang tadi...Nak Dina harus tahu jenis obat-obatan apa saja yang diminum ibu Nak Dina! Siapa tahu...Dokter dan Suster ini keluru ngasih obat!Sekarang lagi musim malpraktek, loh!!
Pak RT : Kalau begitu....apa perlu, saya menelpon Polisi?
Dokter : Anda-anda ini jangan seenaknya menuduh kami, ya!!Kami ini tidak melakukan malpraktek! Saya ini sudah tujuh tahun menjadi dokter di rimah sakit umum di kota ini, dan suster ini sudah empat setengah tahun! Anda-anda ini jangan bercanda! Tetapi..kalau kalian mau menghubungi POLISI...silakan saja!!!kami punya bukti!!
Tetangga : Ya, sudah! Laporin saja, Pak RT! Kita serahkan semuanya sama POLISI!!

TEMAN-TEMAN DINA MENGIYAKAN. DINA HANYA DIAM.
Pak RT : Kalau begitu....nah..bagaimana Mbak Dina? Saya boleh pinjem tilponnya?
Teman 2 : Pak RT! Pak RT nggak usah repot-repot nelpon! Ayahku khan, Polisi! Apa perlu saya penggilkan sekarang? Ayah saya jam segini biasanya udah pulang!!Rumah saya dari sini deket, kok! Gimana?!
Tetangga : Ya sudah! Sana cepetan!!

TEMAN 2 KELUAR. TAK LAMA, TEMAN 2 MASUK LAGI BERSAMA POLISI.
Polisi : Selamat malam. Saya dengar dari anak saya.. ibunya Dina meninggal dunia. Ada masalah apa?
Tetangga : Begini, Pak Polisi! disini ada kasus malpraktek! Ini Pk Polisi, Dokter dan Suster ini ndak mau ngaku kalu mereka melakukan malpraktek sehingga membuat ibu Nak Dina meninggal dunia....
Polisi : Loh...Dokter Widi! Bagaimana anda bisa ada di sini?
Dokter : Wah...untung ada anda, Pak Waskito! Saya dan Suster ini dituduh malpraktek. padahal...anda tahu sendiri khan, Pak? Saya selama tiga tahun ini selalu membantu kasus yang anda tangani dengan mengotopsi mayat-mayat yang kematiannya tidak terungkap?
Polisi : Ya, benar! Yang dikatakan Dokter Widi benar sekali. Ia telah banyak membantu saya. Saya pikir... tidak mungkin Dokter Widi dan suster ini melakukan malpraktek!
Tetangga : Kalau begitu...lalu...siapa dong, yang meracuni ibunya Nak Dina?

SEMUANYA RIBUT. TETAPI DINA HANYA DIAM SAJA.
Polisi : Kalu boleh tahu...sebenarnya, Ibu saudari Dina sakit apa? Bisa dijelaskan, Dok?
Dokter : Begini, Pak Waskito... sebenarnya, sudah lama ibu Dina sakit-sakitan. Dan yang paling parah adalah penyakit yang terakhir ibu Dina alami ini. Sebenarnya... saya sudah menyuruh bahkan memaksa Dina supaya ibu Dina tetap dirawat di rumah sakit. Tapi..mau bagaimana lagi, Dina sendiri menolak. Padahal....keluarga Dina mendapat asuransi.
Polisi : Memangnya...ayah saudari Dina dimana?
Teman 3 : Ayahnya Dina sudah meninggal satu tahun yang lalu, Om..eh...Pak!!
Polisi : Kalau begitu...sebenarnya...penyakit apa yang diderita ibu saudari Dina?
Dokter : Penyakit ibu Dina adalah flu bu....
Dina : (BERDIRI). Cukup, Dok!!!

SEMUA KAGET.
Dina : (SAMBIL MENGUSAP AIR MATA). Saya....saya yang telah meracuni ibu saya!!!

SEMUA TAMBAH RIBUT.
Teman 1 : Din, jangan bercanda kamu!!!
Tetangga : Iya Nak Dina!Mana mungkin Nak Dina melakukan hal yang senekat dan sebejat itu! apalagi...Budhe tahu kalau Nak Dina itu sangat sayang sama ibu Nak Dina! Iya to, Nak Dina?!

DINA HANYA DIAM. IA MENANGIS LAGI.
Teman 3 : Iya...lagipula... Dina itu anak yang baik dan pintar. Mana mungkin.........
Polisi : Itu bisa saja mungkin dan bisa juga tidak!Bisa saja......
Dina : Saya tidak bohong!!!! Saya sudah tidak tahan lagi!! semuanya dengar!! Saya tidak bohong!!!!

SEMUANYA KAGET. RIBUT.
Polisi : Kalau begitu...bisakah anda jelaskan mengapa anda membunuh ibu anda sendiri?

SEMUANYA DIAM DAN SALING BERPANDANGAN. CEMAS.
Dina : Karena......
Tetangga : Karena apa Nak Dina?
Teman 2 : Iya...karena apa, Din?

HENING.
Dina : Karena....karena saya sangat mencintai ibu saya...........!

SEMUA KAGET.

LAMPU MATI.

SELESAI.







Naskah Drama 2.

“EPISODE DAUN KERING”

Sebuah drama monolog oleh Zulfikri Sasma
ADAPTASI DARI CERPEN KARYA LARSI DE ISRAL


Panggung adalah ruangan kosong yang hanya di isi oleh sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu. Lampu panggung tampak temaram. Sarjun, seorang lelaki muda (kira-kira berusia 24 tahun) dengan menyandang sebuah ransel di punggungnya, tampak melangkah lemas memasuki panggung. Ribuan rasa kecewa menghias di wajahnya. Lelaki itu kemudian duduk di atas bangku dan menaruh ransel di sampingnya. Ia tertunduk lesu dan kemudian mengangkat wajahnya.

SARJUN
Saudara-saudara, sampai hari ini, saya masih mempercayai Tuhan dengan segala skenario-Nya. Pergantian siang dan malam. Kehidupan dan kematian. Untung dan rugi. Marah dan cinta. Di dalam semua itu kita melingkar, menjalar bahkan kadang terpaku tanpa daya. Beragam kisah dilakoni dengan bermacam rasa yang terkadang menjelma benang kusut. Dibutuhkan kesabaran untuk mengurainya. Dan, manakala kesabaran yang kita miliki kian menipis atau sama sekali sirna, adakah orang lain akan datang menawarkan pertolongan? Memberi kesejukan pada pikiran dan perasaan seperti benang kusut?
Teramat berat bagi saya untuk berbagi kisah ini.
Kisah yang saya sebut sebagai episode daun kering!

Sarjun tertunduk, kecewa berkecamuk di dadanya. Tak lama, ia kembali mengangkat wajahnya dan melanjutkan ucapannya.

SARJUN
Bukan! Bukan karena menyangkut sisi hidup saya yang gelap, bukan saudara-saudara! Akan tetapi, hal ini melibatkan keluarga saya yang tinggal dua orang: Papa dan Alpin, adik saya…

Sarjun merubah posisi duduknya, memandang langit, tatapannya kosong.

SARJUN
Sejak kematian ibu, saya melanjutkan kuliah di Padang sedang Alpin kuliah di Medan. Sejak itulah Papa tinggal sendiri di Payakumbuh. Saya mengerti benar makna kesepian bagi orang seusia Papa. Karena itu saya mengunjunginya tiap bulan. Alpin pun saya kira begitu. Namun karena Medan dan Payakumbuh terbentang jarak yang tidak dekat, maka ia hanya pulang tiap liburan semester.
Tetapi saudara-saudara, kepulangan saya kali ini, sungguh-sungguh membuat saya hampir putus asa! Betapa tidak? Baru saja saya sampai di teras depan rumah, tiba-tiba saya mendengar teriakan “tidak” yang sangat begitu keras. Saya yakin, itu adalah suara Papa. Saya jadi tertegun mendengarnya, lalu mengintipnya lewat lubang kunci.

Sarjun beranjak dari tempat duduknya, berdiri dan melangkah ke depan panggung sambil tersenyum mengejek

SARJUN
Saudara-saudara, saudara-saudara tahu apa yang saya lihat? Sungguh di luar dugaan, saya menyaksikan Papa berdiri disamping meja telepon dengan kepala tertunduk dan wajah kuyu! Sempoyongan ia menuju sofa. Kecewa, marah, sedih dan entah makna apa lagi yang dapat dibaca dari raut wajahnya.

Kesal, lelaki itu kembali duduk di bangku

SARJUN
Heran, tidak mungkin Papa begitu! Tidak mungkin! Papa saya bukan lelaki yang rapuh. Ia lelaki paling tegar yang pernah saya kenal. Ia cerdas meski terkadang sangat egois. Masih terlalu jelas dalam ingatan saya ketika ia memutuskan berburu babi sebagai olahraga pengisi kesendiriannya.

Sarjun kembali menatap langit. Kali ini tatapannya tajam.
SARJUN
Waktu itu papa duduk di sofa. Ia membaca Koran, kelihatan santai, saya datang dan mengambil tempat di sofa lain.

SARJUN
Oke! Silahkan Papa buru babi. Tapi, membeli anjing? Apalagi seharga dua juta lebih? Saya tidak setuju! Itu haram, Pa!
PAPA
Hehehehe… jika tidak dibeli Papa dapat anjing dari mana? Mana ada anjing kurap yang bisa buru babi? Atau anjing jadi yang dibagi-bagi secara gratis? Nak, membeli anjing itu tidak apa-apa asal tujuannya baik. Nah, menyelamatkan tanaman petani dari hama babi kan perbuatan mulia? Banyangkan babi-babi yang temok itu diburu dengan anjing kurap, heh, heh… ia akan tetap merdeka melahap tanaman petani. Dan, petani tidak akan makan, kamu rela petani mati kelaparan?
SARJUN
Tapi Tuhan tidak pernah menghalalkan sesuatu dari yang haram
PAPA
Bukan Tuhan namanya kalau sekaku itu. Bukankah kamu sering bilang: adh-dharuratu tunbihul mahzhurat?
SARJUN
Apakah kondisi seperti itu sudah darurat?
PAPA
Menurutmu, keselamatan manusia bukan ukuran darurat?
SARJUN
Anjing adalah anjing. Babi adalah babi. Najis tetap najis dan haram tetap haram!
PAPA
Tuhan itu cerdas, nak. Ia tidak akan ciptakan tanah kalau memang kita dilarang menyentuh benda bernajis. Hehehehe…

Kesal Sarjun seperti memuncak. Ia berdiri dan melangkah menuju belakang bangku

SARJUN
Bah! Banyak sekali alasan Papa untuk membenarkan keinginan dan perbuatannya.

Sarjun menggeleng-gelengkan kepalanya

SARJUN
Nah, saudara-saudara, bukankah apa yang saya saksikan di rumah tadi tidak masuk akal?
Seseorang yang selama ini tegar tertunduk lesu dan kuyu? Ini tidak masuk akal!
Apalagi setelah itu saya lihat Papa menangis! Menangis? Papa menangis? Heh? Tiba-tiba saya dorong daun pintu yang ternyata tidak terkunci. Papa terkejut melihat kedatangan saya. Segera Papa memburu saya. Lalu saya dipeluknya erat-erat. Begitu erat saudara-saudara!

Sarjun berhenti sejenak. Ia kembali duduk dan kemudian menunduk dengan kedua tangan menutup wajah. Keadaan jadi hening. Lama ia baru bersuara, tapi kali ini suaranya serak. Matanya kelihatan basah.

SARJUN
Dalam pelukan saya, tangis papa tiba-tiba tumpah. Saya jadi kikuk. Setelah agak lama, Papa saya ajak duduk. Papa masih menangis terisak-isak. Saya tinggalkan Papa di sofa, dan mengambil segelas air putih ke belakang.
Papa menangis? Sungguh tak masuk akal.

Sarjun diam sebentar, menghapus air mata yang menetes di pipinya. Berdiri lalu bergerak ke depan panggung.

SARJUN
Sampai malam itu, saya masih menganggap Papa sosok yang tegar, tidak rapuh apalagi cengeng. Saya punya banyak alasan untuk anggapan ini.
Pernah suatu ketika saya iseng-iseng mengikuti papa buru babi. Maksud saya untuk menemukan sebuah titik lemah sehingga Papa berhenti membeli anjing yang konon didatangkan dari Jawa. Tetapi yang saya temukan bukan titik lemah, melainkan noda hitam yang dicapkan kepada Papa. Ah, saya tidak tahu bagaimana mengatakan bagian ini. Papa ternyata seorang kriminal! Di hutan itu ia menanam ganja. Dan, buru babi rupanya hanya kedok buat mengelabui saya!
Ketika itu saya ingin lari ke tempat tak bernama dan entah dimana. Saya bingung. Tetapi darah muda saya berkata lain. Lawan! Ya, saya mesti melawan! Saya ambil beberapa helai daun jahanam yang tengah di jemur oleh anak buah Papa untuk saya linting. Saya kemudian mencari Papa.
Saya temukan Papa sedang merintih kesakitan, katanya diseruduk babi hutan. Ia hanya merintih, tidak menangis. Rasa iba tiba-tiba menjalar di dada saya, namun rasa benci telah meruang. Iba tiba-tiba tehalau oleh benci.
Seperti tidak tejadi apa-apa, saya menyalakan lintingan tadi, menghisapnya dalam-dalam dan menghempuskan asapnya ke arah Papa. Papa mencari-cari bau, lalu berdiri dan mengayunkan tamparan keras ke arah saya.
PAPA
Buang! Buang kataku! Aku menanam ganja-ganja itu bukan untuk anak-anakku. Melainkan untuk anak-anak orang lain. Aku hanya butuh uang untuk-anak-anakku!
SARJUN
Hmmm, aku bangga jadi anak orang yang tidak memikirkan anak-anak orang lain. Aku bangga! Aku bangga Pa!

Sarjun kembali terdiam dan duduk di bangku kayu. Keadaan kembali hening.

SARJUN
Saudara-saudara, sekarang Papa menangis, terisak-isak. Betul-betul tidak masuk akal. Saya lalu menaruh segelas air putih di atas meja dan mempersilahkan Papa untuk meminumnya. Tetapi Papa tetap saja terisak-isak bersama tangisnya. Tiba-tiba, Papa menyebut-nyebut nama Alpin. Tentu saja saya terkesiap olehnya. Alpin? Ada apa dengan Alpin? Saya jadi bingung saudara-saudara! Heran!

Sarjun kembali menunduk, ia seperti menahan emosinya
SARJUN
Saudara-saudara, ternyata yang menyebabkan Papa saya menangis terisak-isak adalah karena Alpin. Alpin adik saya. Ia di tahan polisi. Alpin tertangkap basah menghisap daun jahanam itu. Daun yang ditanam orang lain yang tidak rela anaknya menghisap ganja!
Mendengar itu saya betul-betul kesal! Saat itu juga, saya ambil ransel dan segera melangkah menuju pintu. Waktu itu saya dengar suara papa memanggil nama saya, tapi tak lagi saya hiraukan. Saya muak! Sungguh-sungguh muak!

Sarjun makin menunduk, emosinya betul-betul memuncak, setelah merasa reda, barulah ia angkat kepalanya

SARJUN
Begitulah saudara-saudara, saya terpaksa kembali ke Padang malam itu juga. Saya tak sanggup menghadapi kenakalan orang tua seperti itu. Apalagi orang tua itu Papa saya sendiri. Telah saya putuskan untuk tidak menemui Papa lagi. Bahkan mungkin di hari pemakamannya kelak, saya takkan hadir. Saya tak bisa memberinya maaf. Saya tak bisa. Tetapi…hah…entahlah. Mungkin suatu ketika saya bisa. Mungkin… sebab, sampai saat ini saya masih mempercayai Tuhan dan segala skenariomya.

Sarjun berdiri, menyandang ranselnya kemudian berjalan keluar panggung. Bebannya berat

* * *

SELESAI








Naskah Drama 3.

“PARA JAHANAM”
Naskah: Zulfikri Sasma
Adaptasi Cerpen LAMPOR Karya Joni Ariadinata
Para Pelaku:
JOHARI(suami)
TUMIYAH (istri)
ROS(anakperempuan)
UJANG (anak laki-laki)
Bagi masyarakat yang bermukim di tepi kali comberan, yang hanya terdiri dari puluhan gubuk-gubuk reot, parade hingar bingar adalah hal yang biasa terjadi. Terlebih pada saat matahari mulai menciumi bau busuk pada tepian kali comber yang dipenuhi bermacam-macam sampah. Sumpah serapah, caci maki, suara bantingan piring yang sering berakhir dengan saling cakar, ternyata telah menjadi upacara bangun pagi yang mengasyikkan. Hingga, tak ada satupun yang menarik untuk didengar, apalagi ditonton.
Inilah kisah tentang kaum comberan, kisah tentang orang-orang yang mengatakan bahwa hidup adalah untuk makan dan senang-senang!
I
Sebuah gubuk reot persis di tepi kali comberan. Dengan artistik ruangan 3x4 meter yang amat sederana, tampak seorang bapak paroh baya keluar dari kamar yang hanya dibatasi oleh triplek dan kain kumal. Pak Johari namanya, ia menguap lalu duduk di dipan kayu yang sama reotnya. Terasa sekali bahwa denyut kehidupan di rumah ini baru dimulai pada pukul 7 pagi.
Pak Johari terlihat sibuk dengan tumpukan-tumpukan kertas di atas mejanya. Ada banyak angka-angka yang tertulis di kertas itu. Ia terlihat berpikir keras, tak ubahnya seperti seorang professor yang akan menyelesaikan penelitiannya. Kemudia ia batuk-batuk, lalu meludahkan dahak kental ke lantai dengan santai.
JOHARI:
Merah delima?(Johari kembali berpikir keras. Kemudian ia teringat sesuatu, lalu mencarinya diantara tumpukan kertas tersebut, tapi tidak ketemu)Tum! Tumiyah! Tumiyah…!
(Tak ada sahutan, Johari lalu mengambil sisa tembakau tadi malam dan melinting, membakar, alu menghirupnya dalam-dalam)Tumiyah! Tum! Hei! Apa kau lihat lembaran syair yang tadi malam kutarok di meja? Tum! Kau dengar aku Tum?(Tetap tak ada sahutan, Johari kemudian melanjutkan pekerjaannya)
II
Tiba-tiba Tumiyah datang membawa ember plastik sambil membanting daun pintu. Tak ayal lagi, sumpah serapah keluar dari mulutnya sendiri. Johari tetap konsentrasi dengan pekerjaannya. Sepertinya sikap Tumiyah yang datang begitu tiba-tiba adalah hal biasa yang dinikmatinya tiap hari.
TUMIYAH:
Betul-betul kurang ajar itu anak! Pagi-pagi sudah mencuri! Dasar anak jadah! Kau tahu Pak Tua? Uangku 3000 perak yang kusimpan di lemari sudah dicuri oleh si Ujang, padahal uang itu akan kupakai untuk membeli minyak tanah! Dasar anak sinting! Anak setan!
JOHARI:
Heh, apa kau lihat lembaran syairku yang kusimpan disini?
TUMIYAH:
Mana aku tahu syairmu, pagi ini aku sedang kesal. Lagi pula, apa tidak ada pekerjaan lain selain meramal syair-syair sialanmu itu?
JOHARI:
Dari pada kau mencaci maki terus-terusan, lebih baik kau bikinkan aku segelas kopi, biar otakku sedikit encer menghitung angka-angka ini
TUMIYAH:
Hari ini tak ada kopi Pak Tua! Sebaiknya kau simpan saja impianmu itu!
JOHARI:
Alah! Kau tahu apa tentang merah delima? (Johari melanjutkan pekerjaannya dan Tumiyah menghilang menuju dapur)
III
Ketika Johari asyik dengan pekerjaannya, Ujang anaknya—yang masih berusia 10 tahun—datang, pakaiannya basah kuyup. Dengan melenggang kangkung, ujang mendekati bapaknya dan duduk di dipan. Matanya sibuk memperhatikan bapaknya yang sibuk menghitung angka-angka.
JOHARI:
He, anak jadah! Kenapa bajumu basah? Heh, aaa, aku tahu, kau pasti ngintip janda kembang itu mandi ya? Kecil-kecil sudah kurang ajar! Ayo pergi sana! Ganti bajumu! Mengganggu konsentrasiku saja!
(Dengan cuek Ujang beranjak menuju dapur, Johari masih melototkan matanya pada Ujang. Setelah Ujang menghilang, Johari kembali dengan pekerjaannya. Tapi, itupun hanya sebentar, karena tak lama setelah itu, Ujang berlari keluar dari dapur diiringi terikan istrinya yang memekakkan telinga.)
TUMIYAH:
Anak sialan! Hei, mau kemana kau? Heh, jangan lari! Kembalikan dulu uangku yang 3000 perak! Pasti kau yang mencurinya! Hei, jangan lari! Keparat, sampai kapan kau mempermainakan orang tua, heh? Awas kau! Awas!
(Tumiyah terlambat, lari Ujang begitu cepat, begitu keluar dari dapur, ia hanya mendapati suaminya yang tengah asyik dengan angka-angkanya, kontan saja, suaminya pun jadi sasaran kemarahannya)
TUMIYAH:
Pak tua, apa kau pikir akan makan dengan berada di rumah terus, heh? Ke pasar kek, kemana saja. Aku sudah tidak punya minyak tanah pak tua!
JOHARI:
Kau ikhlaskan saja 3000 perak itu, untuk beli minyak tanah ngutang dulu di warung si Leman, aku sedang nunggu si Kontan untuk urusan penting.
TUMIYAH:
Kontan gundul bonyok! Apa sepenting itu Kontan hingga kau harus menunggu? Dengar pak tua, utang sama si Leman sudah tiga puluh ribu perak, yang penting sekarang minyak tanah, bukan Kontan
JOHARI:
Perempuan goblok, kau tahu apa tentang merah delima? Heh, kalau jadi…hem. Kita akan lekas kaya! Aku akan bangun rumah dengan lampu yang lebih besar dari yang ada di Griya Arta sana. Biar mereka nyahok! Kemudian, aku akan…
TUMIYAH:
Alah sudah! Dasar pembual!
(Tumiyah memotong ucapan suaminya, bertengkar dengan lelaki ini, tak akan menghasilkan apa-apa. Otaknya sudah budek. Lalu menyapu gubuknya yang seperti kapal pecah. Tengah asyik menyapu, ia teringat bahwa hari ini adalah hari rabu. Tumiyah tersenyum, emosinya sedikit reda. Ia berhenti menyapu dan mendekati suaminya yang sedang mabuk membayangkan rumah sehebat Griya Arta)
TUMIYAH:
Apa kau sudah mendapatkan inpo alam pak tua?
JOHARI:
Heeeeh perempuan, kamu bilang enggak punya duit!
TUMIYAH:
Weeaalahh, tololnya, kalau kau menang kan aku juga yang senang, lagian, apa kau punya duit? Beli minyak tanah saja tidak becus!
JOHARI:
Ya sudah, aku cuman mancing-mancing kalau kamu diam-diam masih menyembunyikan uang. Hem, kelihatannya wangsit kali ini memang benar. Coba kau bayangkan, dalam mimpi itu aku dikelilingi tiga ekor kalkun. Kalkun Arab. Setelah dikutak-kutik, ternyata kena pada tujuh delapan dengan ekor dua tujuh. Pokoknya untuk yang satu ini aku harus bisa. Aku akan mengandalkan si Kontan, setidaknya untuk dua kupon
TUMIYAH:
Terserah, mau Kontan mau setan, aku sudah tak mau tahu, yang penting sekarang minyak! Aku tak mau kelaparan karena Kontan.(Tumiyah buru-buru bangkit, menyelesaikan pekerjaanya menyapu rumah, agak lama. Ia menoleh ke belakang, ke arah suaminya yang masih bermimpi dengan rumah seindah Griya Arta, hati-hati, ia kemudian menyelinap keluar, bukan ke warung Leman, tetapi ke Pasar untuk membeli dua lembar kupon)
IV
Hingga pukul 12.00 siang, Kontan belum jua muncul. Tiba-tiba Ros—anak gadisnya—muncul, Ros datang dengan membawa nasi bungkus dan memakannya sendiri dengan enak. Pak Johari jadi iri dan lapar. Pak Johari jadi ingat bahwa perutnya belum di isi sejak pagi tadi, sedang Tumiyah istrinya ngelayap entah kemana.
JOHARI:
Tentu kau masih menyimpan uang, belikan ayah sebungkus lagi, pake tahu
ROS:
Nggak! Nggak mau. Uangku hanya tingga 2000 perak buat beli viva, bedakku habis
(Ros tiba-tiba menjauh, menjaga nasinya agar tidak terjangkau oleh ayahnya)
JOHARI:
Heh, bukankah itu uangku? Uang dari si Ujang kan?
ROS:
Enak saja, bang Nasrul yang kasih aku lima ribu
JOHARI:
Nasrul? Laki-laki brengsek itu? O ya, kalau begitu tolong kamu pinjamkan sama Nasrul. Nasrul senang kamu? Bagus. Tidak apa-apa
ROS:
Nggak! Pergi saja sendiri (Ros kemudian lari ke belakang, tentu saja Johari marah sambil berteriak)
JOHARI:
Keparat! Awas kamu Ros, aku doakan kau nyahok dengan Nasrul!
(Pak Johari pun pergi keluar rumah)
V
Malam telah larut, lampu minyak telah lama dinyalakan. Kecuali Pak Johari yang memang belum pulang, semua penghuni di rumah itu telah lama lelap bersama mimpi-mimpi indahnya. Ya, tak ada yang perlu dikerjakan selain tidur. Hanya dengan tidurlah keluarga semacam itu bisa tentram dan sunyi.
Pukul sebelas malam, pak Johari baru pulang. Tubuhnya sedikit oleng pertanda sedang mabuk berat. Mulutnya menceracau-ceracau tak karuan. Memanggil-manggil Tumiyah Istrinya.
JOHARI:
Tum, Tumiyah, aku gagal Tum, hik, aku gagal mendapatkan kupon itu, padahal nomornya jitu, hik. Jika saja tidak, mungkin malam ini kita sudah bercinta di Griya Arta, eh, hik, bercinta? O ya, malam ini kita bercinta lagi ya Tum, hik, itulah obat bagi segalanya, hik. Tenanglah Tum, besok akan kupikirkan lagi kabar tentang merah delima, hik. Tum, hik, Tum..
(Mulut Johari terus menceracau, dalam benaknya sudah terbayang nikmatnya bercinta dengan Istrinya. Johari kemudian bergerak menuju salah satu kamar dalam gubuknya, tapi bukan ke kamar dimana Tumiyah Istrinya telah lama terlelap. Barangkali gara-gara terlalu mabuk sehingga Johari lupa bahwa ia telah masuk ke kamar Ros anak gadisnya. Dan…)
* * *
SELESAI









Naskah Drama 4.

NASKAH
“BADAI SEPANJANG MALAM”
Karya MAX ARIFIN

Para Pelaku:
1.Jamil, seorang guru SD di Klaulan,Lombok Selatan,berumur 24 tahun
2.Saenah,istri Jamil berusia 23 tahun
3.Kepala Desa,suara pada flashback


Setting :
Ruangan depan sebuah rumah desa pada malam hari.Di dinding ada lampu
minyak menyala.Ada sebuah meja tulis tua. Diatasnya ada beberapa buku
besar.Kursi tamu dari rotan sudah agak tua.Dekat dinding ada balai balai .Sebuah radio transistor juga nampak di atas meja.


Suara :
Suara jangkerik.suara burung malam.gonggongan anjing di kejauhan.Suara Adzan subuh.

Musik:
Sayup sayup terdengar lagu Asmaradahana,lewat suara sendu seruling

Note:
Kedua suami istri memperlihatkan pola kehidupan kota.dengan kata lain,mereka berdua memang berasal dari kota.tampak pada cara dan bahan pakaian yang mereka kenakan pada malam hari itu.mereka juga memperlihatkan sebagai orang yang baik baik.hanya idelisme yang menyala nyala yang menyebabkan mereka berada di desa terpencil itu.

Begitu layar tersingkap, nampak Jamil sedang asyik membaca.Kaki nya ditelusurkan ke atas kursi di depannya.Sekali sekali ia memijit mijit keningnya dan membaca lagi.Kemudian ia mengangkat mukanya,memandang jauh ke depan,merenung dan kembali lagi pada bacaannya.Di kejauhan terdengar salak anjing melengking sedih.Jangkerik juga menghiasi suasana malam itu. Di kejauhan terdengar seruling pilu membawakan Asmaradahana.
Jamil menyambar rokok di atas meja dan menyulutnya.Asap berekepul ke atas.Pada saat itu istrinya muncul dari balik pintu kamar.


Saenah
Kau belum tidur juga?kukira sudah larut malam.Beristirahatlah,besok kan hari kerja?

Jamil
Sebentar,Saenah.Seluruh tubuhku memang sudah lelah,tapi pikiranku masih saja mengambang ke sana kemari.Biasa, kan aku begini malam malam.

Saenah
Baiklah.tapi apa boleh akuketahui apa yang kaupikirkan malam ini?

Jamil
Semuanya,semua apa yang kupikirkan selama ini sudah kurekam dalam buku harianku,Saenah.Perjalanan hidup seorang guru muda-yang ditempatkan di suatu desa terpencil-seperti Klulan ini kini merupakan lembaran lembaran terbuka bagi semua orang.

Saenah
Kenapa kini baru kau beritahukan hal itu padaku? Kau seakan akan menyimpan suatu rahasia.Atau memang rahasia?

Jamil
Sama sekali bukan rahasia ,sayangku! Malam malam di tempat terpencil seakan memanggil aku untuk diajak merenungkan sesuatu.Dan jika aku tak bisa memenuhi ajakannya aku akan mengalami semacam frustasi.Memang pernah sekali,suatu malam yang mencekam,ketika aku sudah tidur dengan nyenyak,aku tiba pada suatu persimpangan jalan di mana aku tidak boleh memilih.Pasrah saja.Apa yang bisa kaulakukan di tempat yang sesunyi ini?

[Dia menyambar buku hariannya yang terletak di atas meja dan membalik balikkannya]

Coba kaubaca catatanku tertanggal…

[sambil masih membolak balik]

..ini tanggal 2 oktober 1977.

Saenah [Membaca]
“Sudah setahun aku bertugas di Klaulan.Suatu tempat yang terpacak tegak seperti karang di tengah lautan,sejak desa ini tertera dalam peta bumi.Dari jauh dia angker,tidak bersahabat:panas dan debu melecut tubuh.Ia kering kerontang,gersang.Apakah aku akan menjadi bagian dari alam yang tidak bersahabat ini?Menjadi penonton yang diombangkan ambingkan oleh…barang tontonannya.Setahun telah lewat dan selama itu manusia ditelan oleh alam”.

[Pause dan Saenah mengeluh;memandang sesaat pada Jamil sebelum membaca lagi].

”Aku belum menemukan kejantanan di sini.Orang orang seperti sulit berbicara tentang hubungan dirinya dengan alam.Sampai di mana kebisuan ini bisa diderita?Dan apakah akan diteruskan oleh generasi generasi yang setiap pagi kuhadapai?Apakah di sini tidak dapat dikatakan adanya kekejaman.”

[Saenah berhenti membaca dan langsung menatap pada Jamil]


Jamil
Kenapa kau berhenti?jangan tatap aku seperti itu,Saenah.

Saenah
Apakah tulisan ini tidak keterlaluan?Bisakah ditemukan kejujuran di dalamnya?


Jamil
Kejujuran kupertaruhkan di dalamnya,Saenah.Aku bisa mengatakan,kita kadang-kadang dihinggapi oleh sikap sikap munafik dalam suatu pergaulan hidup.Ada ikatan ikatan yang mengharuskan kita berkata “Ya!” terhadap apa pun,sekalipun dalam hati kecil kita berkata”Tidak”.Kejujuranku mendorong aku berkata,”Tidak”,karena aku melatih diri menjadi orang yang setia kepada nuraninya.Aku juga tahu, masa kini yang dicari adalah orang orang yang mau berkata”Ya”.Yang berkata “Tidak” akan disisihkan.

[Pause]

Memang sulit,Saenah.Tapi itulah hidup yang sebenarnya terjadi.Kecuali kalau kita mau melihat hidup ini indah di luar,bobrok di dalam.Itulah masalahnya.

[Pause.Suasana itu menjadi hening sekali.Di kejauhan terdengar salak anjing berkepanjangan]

Saenah
Aku tidak berpikir sampai ke sana. Pikiranku sederhana saja.kau masih ingat tentunya,ketika kita pertama kali tiba di sini,ya setahun yang lalu.Tekadmu untuk berdiri di depan kelas,mengajar generasi muda itu agar menjadi pandai.Idealismemu menyala nyala.Waktu itu kita disambut oleh Kepala Desa dengan pidato selamat datangnya.

[S aenah lari masuk.Jamil terkejut.tetapi sekejap mata Saenah muncul sambil membawa tape recorder!]

Ini putarlah tape ini.Kaurekam peristiwa itu.

[Saenah memutar tape itu,kemudian terdengarlah suara Kepala Desa]’

…Kami ucapkan selamat datang kepada Saudara Jamil dan istri.Inilah tempat kami.Kami harap saudara betah menjadi guru di sini.Untuk tempat saudara berlindung dari panas dan angin,kami telah menyediakan pondok yang barangkali tidak terlalu baik bagi saudara.Dan apabila Anda memandang bangunan SD yang cuma tiga kelas itu.Dindingnya telah robek,daun pintunya telah copot,lemari lemari sudah reyot,lonceng sekolah bekas pacul tua yang telah tak terpakai lagi.Semunya,semuanya menjadi tantangan bagi kita bersama.Selain itu,kami perkenalkan dua orang guru lainnya yang sudah lima tahun bekerja di sini.Yang ini adalah Saudara Sahli,sedang yang berkaca mata itu adalah Saudara Hasan.Kedatangan Saudara ini akan memperkuat tekad kami untuk membina generasi muda di sini.Harapan seperti ini menjadi harapan Saudara Sahli dan Saudara Hasan tentunya.”

[Saenah mematikan tape.Pause,agak lama.Jamil menunduk,sedang Saenah memandang pada Jamil.Pelan pelan Jamil mengangkat mukanya.Mereka berpandangan]


Saenah
Semua bicara baik-baik saja waktu itu dan semuanya berjalan wajar.

Jamil
Apakah ada yang tidak wajar pada diriku sekarang ini ?

Saenah
Kini aku yang bertanya:jujurkah pada nuranimu sendiri?Penilaian terakhir ada pada hatimu.dan mampukah kau membuat semacam pengadilan yang tidak memihak kepada nuranimu sendiri?Karena bukan mustahil sikap keras kepala yang berdiri di belakang semuanya itu.Terus terang dari hari ke hari kita seperti terdesak dalam masyarakat yang kecil ini.

Jamil
Apakah masih harus kukatakan bahwa aku telah berusaha berbuat jujur dalam semua tindakanku?Kau menyalahkan aku karena aku terlalu banyak bilang”Tidak” dalam setiap dialog dengan sekitarku.Tapi itulah hatiku yang ikhlas untuk ikut gerak langkah masyarakatku.Tidak,Saenah.Mental masyarakat seperti katamu itu tidak terbatas di desa saja, tapi juga berada di kota

Saenah
Kau tidak memahami masyarakatmu.

Jamil
Masyarakat itulah yang tidak memahami aku.

Saenah
siapa yang salah dalam hal ini.

Jamil
Masyarakat.

Saenah
Yang menang ?

Jamil
Aku

Saenah
Lalu ?

Jamil
Aku mau pindah dari sini.

[Pause. Lama sekali mereka berpandangan.].

Saenah [Dengan suara rendah]
Aku kira itu bukan suatu penyelesaian.

Jamil
[Keras] Sementara memang itulah penyelesaiannya.

Saenah[Keras]
Tidak! Mesti ada sesuatu yang hilang antara kau dengan masyarakatmu.Selama ini kau membanggakan dirimu sebagai seorang idealis.Idealis sejati,malah.Apalah arti kata itu bila kau sendiri tidak bisa dan tidak mampu bergaul akrab dengan masyarakatmu.
[Pause]

[Lemah diucapkan]

Aku terkenang masa itu,ketika kau membujuk aku agar aku mu datang kemari

[Flashback dengan mengubah warn cahaya pelan pelan.Memakai potentiometer.Bisa hijau muda atau warna lainnya yang agak kontras dengan warna semula.Musik sendu mengalun]

Jamil
Aku mau hidup jauh dari kebisingan,Saenah.Aku tertarik dengan kehidupan sunyi di desa,dengan penduduknya yang polos dan sederhana.Di sana aku ingin melihat manusia seutuhnya.Manusia yang belum dipoles sikap sikap munafik dan pulasan belaka.Aku harap kau menyambut keinginanku ini dengan gembira,dan kita bersama sama kesana.Di sana tenagaku lebih diperlukan dari pada di kota.Dan tentu banyak yang dapat aku lakukan.

Saenah
Sudah kaupikirkan baik baik? Perjuangan di sana berarti di luar jangkauan perhatian.

Jamil
Aku bukan orang yang membutuhkan perhatian dan publikasi.Kepergianku ke sana bukan dengan harapan untuk menjadi guru teladan.Coba bayangkan,siapa pejabat yang bisa memikirkan kesulitan seorang guru yang bertugas di Sembalun,umpamanya?Betul mereka menerima gaji tiap bulan.Tapi dari hari ke hari dicekam kesunyian,dengan senyum secercah terbayang di bibirnya bila menghadapi anak bangsanya.dengan alat alat serba kurang mungkin kehabisan kapur,namun hatinya tetap di sana.Aku bukan orang yang membutuhkan publikasi,tapi ukuran ukuran dan nilai nilai seorang guru di desa perlu direnungkan kembali.Ini bukan ilusi atau igauan di malam sepi,Saenah.Sedang teman teman di kota mempunyai kesempatan untuk hal hal yang sebaliknya dari kita ini.Itulah yang mendorong aku,mendorong hatiku untuk melamar bertugas di desa ini.


Saenah
Baiklah, Sayang.Ketika aku melangkahkan kaki memasuki gerbang perkawinan kita,aku sudah tahu macam suami yang kupilih itu.Aku bersedia mendampingimu.Aku tahu,apa tugas utamaku disamping sebagai seorang ibu rumah tangga.Yaitu menghayati tugas suami dan menjadi pendorong utama karirnya.Aku bersedia meninggalkan kota yang ramai dan aku sudah siap mental menghadapi kesunyian dan kesepian macam apa pun.Kau tak perlu sangsi.

[Pause sebentar. Pelan pelan lampu kembali pada cahaya semula]

Saenah
Kini aku menjadi sangsi terhadap dirimu.Mana idealisme yang dulu itu? Tengoklah ke kanan.apakah jejeran buku-buku itu belum bisa memberikan jawaban pada keadaan yang kauhadapi sekarang?Di sana ada jawaban yang diberikan oleh Leon Iris,Erich Fromm,Emerson atau Alvin Toffler.Ya,malam malam aku sering melihat kau membuka-buka buku-buku Erich Fromm yang berjudul The Sane Society atau Future Shock nya Alvin Toffler itu.

Jamil
Apa yang kau kauketahui tentang Eric Fromm dengan bukunya itu? Atau Toffler?

Saenah
Tidak banyak.Tapi yang kuketahui ada orang-orang yang mencari kekuatan pada buku-bukunya.Dan dia tidak akan mundur walau kehidupan pahit macam apa pun dosodorkan kepadanya.karena ia mempunyaai integritas diri lebih tinggi dri orang-orang yng menyebabkan kepahitan hidupnya.apakah kau menyerah dalam hal ini?Ketika kau melangkahkan kakimu memasuki desa ini terlalu bnyak yang akan kausumbngkan padanya,ini harsus kauakui.Tapi kini-akuilah-kau menganggap desa ini terlalu banyak meminta dirimu.Inilah resiko hidup di desa.Seluruh aspek kehidupan kita disorot.Smpai sampai soal pribadi kita dijadikan ukuran mampu tidaknya kita bertugas.Dan aku tahu hal itu.Karena aku kenal kau.

[Suasana menjadi hening sekali.Pause]

Aku sama sekali tak menyalahkan kau.malah dim diam menghargai kau, dan hal itu sudah sepantasnya.Aku tidak ingin kau tenggelam begitu saja dalam suatu msyarakat atau dalam suatu sistem yang jelek namun telah membudaya dalam masyarakat itu.Di mana pun kau berda.juga sekiranya kau bekerja di kantor.Kau pernah dengan penuh semangat menceritakan bagaimana novel karya Leon Uris yang berjudul QB VII.Di sana Uris menulis,katamu bahwa seorang manusia harus sadar kemanusiaannya dan berdiri tegak antara batas kegilaan lingkungannya dan kekuatan moral yang seharusnya menjadi pendukungnya.Betapapun kecil kekuatan itu.Di sanalah manusia itu diuji.Ini bukan kuliah.Aku tak menyetujui bila kau bicara soal kalah menang dalam hal ini.Tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang.Dialog yang masih kurang.


Jamil
Aku mungkin mulai menyadari apa benda yang hilang yang kaukatakan tadi.generasi sekarang mengalami kesulitan dalam masalah hubungan.Hubungan antar sesama manusia.Mereka mengalami apa yang disebut kegaguan intelektual.kita makin cemas, kita seakan akan mengalami kemiskinan artikulasi.Disementara sekolah di banyak sekolah malah,mengarang pun bukanlah menjadi pelajaran utama lagi,sementara makin banyak gagasan yang harus diberitahukan ke segala sudut.Pertukaran pikiran makin dibutuhkan.


Saenah
Ya,seperti pertukaran pikiran malam ini.Kita harus yakin akan manfaat pertukaran .Ada gejala dalam masyarakat di mana orang kuat dan berkuasa segan bertukar pikiran.Untuk apa, kata mereka. Kan aku berkuasa.

Jamil
Padahal nasib suatu masyarakat tergantung pada hal-hal itu.Dan kita jangan melupakan kenyataan bahwa masyarakat itu bukan saja berada dalam konflik dengan orang-orang yang mempunyai sikap yang tidak sosial tetapi sering pula konflik dengan sifat sifat manusia yang paling dibutuhkan,yang justru ditekan oleh masyarakat itu sendiri.


Saenah:
Itu kan Erich Fromm yang bilang.

Jamil
Memang aku mengutip dia.

[Dari kejauhan terdengar suara bedug subuh kemudian adzan]

Saenah
Aduh,kiranya sudah subuh.Pagi ini anak-anak menunggumu,generasi muda yang sangat membutuhkan kau.

Jamil
Aku akan tetap berada di desa ini,sayangku.

Saenah
Aku akan tetap bersamamu.Yakinlah.

[Jamil menuntun istrinya ke kamar tidur.Musik melengking keras lalu pelan pelan,sendu dan akhirnya berhenti].

TAMAT

Catatan:
Naskah ini pernah dimuat dalam buku Kumpulan Drama Remaja, editor A.Rumadi.Penerbit PT Gramedia Jakarta,1988,halaman 25-33






Naskah Drama 5

Lakon
“BILA MULA”
Karya: JOKO SUCIANTO, SPd.

LAMPU PADAM, REMANG-REMANG. MUSIK, BERNYANYI, MENARI, MERAUNG-RAUNG DI TELINGA YANG TERLUKA. SEIRING TARIAN YANG BERINGSUT. SUNGGUH ADANYA TIDAK MENGADA-ADA. SEPERTI GELAP KE REMANG. SEPERTI REMANG KE TERANG. SEPERTI TERANG KEMBALU REMANG. SEPERTI REMANG KE KEGELAPAN YANG .MUTLAK
TELAK, TERBELALAK. MUNCUL ROMBONGAN ANAK-ANAK YANG BERMAIN-MAIN DENGAN MAINANNYA MASING-MASING BERPUTAR, BERSUARA, BEREBUT, TERTAWA, MENANGIS, DAN MENANGISI SESUATU
LAMPU PADAM

Untuk sejenak kedewasaan kita diuji
Seketika mata daging mengembara tak jauh dari pikiran yang terlalu sering terjejali kebiasa-kebiasaan hari. Ada ruang baru yang lahir dan menjadi naluri batin tak terbaca. Hal ini mungkin terjadi pada siapa saja karena dunia dan aktifitasnya sudah mulai membosankan. Lalu tubuh yang baku menjadi sebuah kemodernan yang melarat karena tubuh itu selalu saja dikosongkan.

Harapan adalah bantal untuk mimpi kita malam ini dan selanjutnya, tanpa adanya landasan-landasan moralis yang kukuh selain keduniawian. Kita sudah terlalu sering menjebak nurani pada suatu yang simbolik yang kolosal dan megah menancap di relung-reling kepenatan masing-masing. (kebodohan yang khas pada manusiaI). Secara lahiriyah fisik adalah tubuh baku yang sudah dilembagakan menurut fungsi masing-masing.

RUDD
Kita tak boleh berhenti. Bergeraklah, karena diam bisa mematikan. Rahasia pertama itu adalah gerak.

RIFF
Alat-alat tidak dapat bekerja sendiri.
Orang harus mengoperasikan dengan keringatnya

MEYY
Kebosanan yang didiamkan sama dengan waktu luang.
Sesuatu yang menipu dan membahayakan

RUDD
Kita tak boleh berhenti bergerak. Kecuali sekedar mengambil bekal dan beristirahat.
Hidup ini akan terus berdenyut dengan atau tanpa kita

RIFF
Para pekerja bukan lagi hamba sahaya
Mereka sekarang penduduk bebas
Bebas menjual dirinya kepada penawar paling tinggi

MEYY
Bagi yang memasuki lingkaran pertama dan menemui jalan buntu
Diminta untuk melacak jejak-jejaknya
Dalam kondisi ini ada esensi
Seseorang yang berdampingan pikiran dan perbuatan

TIBA-TIBA LAMPU PADAM

RUDD
Hey! Kenapa tiba-tiba gelap! Apa artimya mata tanpa cahaya
Gelap gulita

MEREKA BERPENCAR LAMPU MENYALA DI TEMPAT RUDD

RUDD
Jika aku telah berbuat salah dalam kata-kataku
Aku mohon jangan tinggalkan aku
Kalian tersesat? Hey…! Hey…!

LAMPU MENYALA DI TEMPAT MEYY

MEYY
Temanmu tidak tersesat
Juga tidak salah jalan
Tidak jatuh sakit. Atau kehilangan harapan
Jalannya dalam kecepatan
Semadi secara mendalam

LAMPU MENYALA DI TEMPAT RIFF

RIFF
Kini kapitalisme bekerja dengan pemerasan yang lebih modern dan rumit

MEYY
Ini adalah pusaran, yang bergerak dalam orbit
Bergerak, berputar, berbalik, berbelok kacau dan menjijikkan

RIFF
Kaum borjuis modern telah muncrat dari puing-puing masyarakat feodal
Ia melahirkan kelas baru
Syarat baru dalam penindasan
Bentuk baru dalam perjuangan
Ia menghancurkan kehendak religius
Kemunafikan kaum agamawan

MEYY
Alangkah panjang perjalanan yang singkat
Jika para penjelajah membuang-buang waktu
Campur tangan rute yang bukan hak mereka
Dan tak punya keteguhan hati

RUDD
Hiburlah jiwa kalian barang sesaat. Karena jiwa itu bisa sekarat
Seperti besi yang bisa sekarat

RIFF
Akal terus berkembang sepanjang sejarah, menuju tujuan yang absolute
Sejarah dunia adalah perkembangan dari kesadaran pada kemerdakaan

MEYY
Tujuan adalah sesuatu yang ditentukan di awal
Diwujudkan di akhir
Tempat memulai pikiran dan akhir dari sebuah perjalanan

RUDD
Semua orang tergesa pergi ke tujuan yang tidak dikenal
Dan nampaknya lebih penting dari Tuhan

RIFF MENGANGKAT TANGANNYA TINGGI-TINGGI

RIFF
Wahai para pekerja seluruh dunia bersatulah
Tangan terdiri dari lima jari yang disatukan

RUDD
Hey, lihat!
Ia mengepalkan tangannya. Dan lihatlah wajahnya. Lihat!

MEYY
Selagi aku di ambang pintu
Aku dengar kata-katamu

RUDD
Lihatlah!
Jangan kau rendahkan hatimu

RIFF ( mengepalkan tangannya )
Mereka akan menjadi Revolusioner bila mereka bersatu dengan kaum proletar
Cepat atau lambat, itu akan berubah mati-matian
Dan akan tiba pada Revolusi!
( bergerak dan bernyanyi penuh semangat )
Revolusi…revolusi…revolusi sampai mati

RUDD
Barangkali dengan bergerak akan melahirkan perubahan
( bergerak mengikuti Riff )
revolusi…revolusi…revolusi sampai mati…

MEYY
Jika kau bisa ikutilah orang merdeka
Sungguh orang merdeka di dunia ini hanya sedikit

RUDD ( berhenti dan nampak lagu-lagu mendekat ke tempat Meyy )
Apa pendapatmu tentang orang itu ?

MEYY
Dilihat dari tingkah dan gaya bicaranya, aku pikir aku tak tahu

RUDD
Siapapun kita. Apapun profesi kita, tidak bisa tidak, ini tak boleh ditawar
Tidak diijinkan berkata tidak tahu di sini!

MEYY
Jangan tanya siapa dia
Tanyalah siapa temannya
Sebab setiap orang selalu mencontoh yang ia temani

RUDD
Baiklah
Seperti dia aku juga tak tahu siapa kau
Apakh kau ini sahabatnya ?!

MEYY
Sahabat adalah penentu
Jangan tanya siapa aku
Tanyakanlah siapa sahabatku
Pasti kau tahu siapa diriku

RUDD
Ah, mempunyai seribu teman terasa kurang
Memiliki satu musuh terasa sesak
Ya maupun Tuhan

RIFF
Tuhan ada sebagai roh dunia
Yang ada adalh nyata
Karena rasional dan sebaliknya

RUDD
Tuhan Maha Besar. Mendekatlah padaNya

RIFF
Manusia yang membuat sejarah, bukan yang lain. Sejarah tidak berbuat apa-apa
Sejarah dibuat oleh manusia, bukan oleh takdir atau tangan Tuhan

RUDD
Tuhan Maha Besar
Mendekalah padaNya

RIFF ( Berteriak )
Terimakasuh Hegel ! Kau mengajari aku bahwa Tuhan yang baik tidak bermukim di surga. Seperti cerita nenek. Tapi aku sendiri. Di sini. Dapat menjadi Tuhan ( exit )

RUDD
Hey…
Hidup hanya sekali jangan salah pilih
Jadilah pemadam api keburukan
( exit )

MUNCUL ROMBONGAN EIGG DAN TISS

Wajah tirus penuh jelaga
Bergerak cepat, berhenti lalu
Seperti sedia kala mencoba mengecap keseharian
Merangkul kebias-biasaan dunia yang telah sesak akan rutinitas
Bergerak, jangan berhenti
Untuk sekadar mengambil bekal
Dan istirahat

MUNCUL ROMBONGAN ORANG-ORANG MEMAKAI JUBAH PUTIH

Dan kesemuanya itu di mata Tuhan adalah sama. Tuhan Maha Besar
Maka mendekatlah padaNya
Yakinlah pada hati
Bahwa Tuhan adalah ada
Sebagai roh dunia
Yang adalah nyata
Apa artinya mata tanpa cahaya
Lampu padam

Selesai





Naskah Drama 6
“AKU MASIH PERAWAN”

KONSEP PENYUTRADARAAN
KONSEP CERITA

Cerita “Aku masih Perawan” menggunakan konsep komedi kontemporer yang diangkat dari dongeng “SLEEPING BEAUTY” yang telah dimodiflkasi baik konsep cerita, setting, musik maupun zaman. Konsep cerita ini mengandung aspek budaya, sosial, humanisme dimana cerita ini menggambarkan budaya dari masing-masing daerah sedangkan unsur sosial dan unsur humanisme yang menggambarkan harmonisnya keluarga Istana serta kerukunan antar budaya yang berbeda.

Cerita “Aku masih Perawan” mengisahkan tentang pangeran yang disihir oleh peri jahat, karena peri jahat tidak diundang oleh keluarga istana dalam pesta turun tahta, alhasil Pangeran tertidur pulas. Terdapat tiga peri yaitu Peri Ngatan, Peri Gosip, Peri Ngisan dari ketiga peri tersebut tidak ada satupun yang dapat menggunakan sihirnya untuk membangun Pangeran. Melihat keadaan tersebut Raja mengadakan sayembara bagi perawan di negeri manapun yang dapat membangunkan Pangeran dari lelapnya sihir maka akan dijadikan Permaisuri bagi Pangeran. Perawan-perawan dari seluruh pelosok negeri berdatangan guna mengikuti sayembara, antara lain: Gadis Jawa dari Indonesia, Britney Sprit dari Ameriki Sirikit, cewek rocker dan Pooja dari India namun usaha mereka sia-sia belaka dan pada akhirnya peri jahat mengikuti sayembara untuk membangunkan Pangeran karena ia menyesal ternyata Pangeran yang disihir tampan sekali, hingga akhirnya Pangeran terbangun dan ia lari terbirit-birit karena tidak mau menikahi peri jahat yang sudah tua dan keriput namun peri jahat yang sudah tua dan keriput tetap mengejar dan meneriakkan “AKU MASIH PERAWAN”.
KONSEP PANGGUNG / LATAR

Menggunakan Properti sebagai berikut:
a. Gorden yang diletakkan sebagai background
b. 2 kursi yang dihias sebagai Singgasana Raja & Ratu 13
c. Tangga kayu
d. Karpet
e. Tempat tidur Pangeran dilapisi spray
f. Tiga buah tanaman hias
g. Gambar kubah di karton
h. Mic yang diletakkan didekat pintu masuk dan Singgasana
KONSEP BUSANA

Menggunakan busana Kerajaan dan sebagian disesuaikan dengan karakter masing-masing tokoh, diantaranya:
• Raja : Baju Raja + sabuk
• Ratu : Rok Canda + Baju hem
• Pangeran : Hem putih + Celana putih + Rompi emas
• Tn Wor-wor : Celana hitam + Hem putih + Rompi hitam + Mahkota
• Peri-peri : Sayap peri + rok canda + mahkota stiver + kaos putih
• Sri Minten : Sewek, kebaya, keramjang, selendang, ember
• Peri Jahat : Tongkat hitam, topi kerucut, jubah hitam, rok hitam
• Britney : Casual, celana panjang, rok mini, kaos, kunciran
• Rocker : Kaos tangan hitam, celana hitam, kaos hitam, gitar
• Pooja : Wig, kerudung, jari

KONSEP MUSIK

Menggunakan konsep musik modern dan tradisional yang disesuaikan dengan karakter masing-masing tokoh


PEMAIN :

Raja William Both Peri Ngatan
Ratu Eliserbet Peri Gosip
Pangeran Dustin Peri Ngisan
Tuan Wor – wor Peri Jahat

PROPERTI :

Dua buah kuris Tahta Kerajaan
Sebuah Microphone
3 buah Mahkota Kerajaan
4 buah tongkat ajaib Pakaian Kerajaan

LATAR :

Di Perayaan Turun Tahta Istana Parahiyangan
Disebuah Pegunungan Himala yuuuuk, berdirilah sebuah istana Parahiyangan yang dihuni seorang Raja William Both dan Ratu Eliserbet beserta putranya yaitu Pangeran Dustin.
Tampak mereka sedang mengadakan pesta turun tahta, dimana Raja William Both menurunkan tahta pada Pangeran Dustin, dan pesta itu dihadiri oleh seluruh rakyat di Negeri Itu beserta peri-peri kayangan, namun Raja lupa tidak mengundang salah satu peri. Penasaran…….???? Yuuuuk!!!!


BABAK 1

Roman Picisan Mukadima / Dewa

Raja :
Bagaimana putraku, apakah ananda sudah siap menerima tahta
dari ayahanda ini?

Pangeran :
Baiklah ayahanda, ananda akan berusaha sekuat tenaga ananda Ratu : Ananda, ingatlah bahwa engkau adalah penerus tahta Kerajaan
ini. So don’t worry, be Happy.

(Akhirnya Pangeran meninggalkan Raja dan Ratu dan membaur dengan para tamu, sesaat kemudian beberapa peri datang antara lain : peri gossip, peri ngisan, dan peri ngatan)

Tn Wor-wor :
Woro-woro, Peri ngisan, Peri Gosip, Peri Ngatan,
segera memasuki arena

(Peri-peri menari kemudian menghampiri Pangeran)

Semua Peri-peri:
Hai..!!!

Peri Ngisan :
Hai Pangeran hi…hi…hi…gimana kabarnya???hi…hi…hi
tambah cakep aja hi…hi…hi…

Peri Gosip :
Gosipnya nih, bakalan ada Raja baru nich!!!

Peri Ngatan :
Ingat!!! Harus adil, Ingat!!! Harus bijaksana, Ingat!!!
Haruuss…

Pangeran :
lya.. .ya.. .ya… oke deh
(lain peri-peri meninggalkan pangeran dan menghampiri Raja dan Ratu) Raja : Selamat datang para peri-peri

Semua Peri :
Terima kasih Paduka Raja

Ratu :
Kalian tampak ceria sekali hari ini

Peri Ngisan :
Hi…hi…hi… tentu saja Ratu hi..hi..hi..khan Pangeran
mau naik tahta hi..hi..hi

Peri Gosip :
Gosipnya nih, masak Pangeran naik tahta, BBM ikut
juga?!

Peri Ngatan :
Ingat!!! kagak nyambung !
(beberapa menit kemudian, acara penyerahan tahta dilaksanakan)

Tn Wor-wor :
Upacara penyerahan tahta kerajaan segera
dimulai… Baginda. Raja dan Pangeran menyiapkan diri masing-masing……

Raja :
Siapkah ananda menerima tahta ini?

Pangeran :
Siap…..ayah…..a…..n…..d….a

Peri Jahat :
Hentikan!!! Semua!!!

Semua Peri :
Yuuu…kk!!!

Peri Jahat :
Apa kalian yak.. .yuk.. .yak.. .yuk…?!
Namaku bukan Yayuk
Hai….Raja!!!Kau sudah menghina aku !
Mengapa kau tidak mengundangku?!

Raja :
Maaf Peri, aku lupa tidak mengundangmu

Peri Jahat :
Aku tidak mau TAHU tapi, kalau tempe.. ..yuuuk.. …

Peri Gosip :
Gosipnya nich, TAHU ada formalinnya looh….

Peri Ngatan :
Ingat !!! Formalin berbahaya Ingat!!!tidak baik untuk kesehatan

Peri Ngisan :
hi…hi…hi…bener looh….hi…hi…hi…

Peri Jahat :
Aku tidak terima!!! Sekarang aku akan mengutukmu Pangeran. Akan kubuat kau tertidur selama 100 tahun

Peri Ngatan :
Ingat!!! Marah dapat menyebabkan gangguan jantung,
impotensi, gangguan kehamilan dan janin

Peri Jahat :
Ya sudah deh karena lagi big sale, aku kasih diskon 50 %
jadi…. 50….tahun Ha…ha…ha dengan kekuatan dunia lain….akan
mengutukmu.. ..cliii.. ..ng

Raja & ratu :
Anakku,?!

Babak II:

Remain : Raja William Both Peri Ngatan Minten
Ratu Eliserbet Peri Gosip Britney Sprit Pangeran Dastin Peri Ngisan Mrs. Rock
Tn Wor Peri Jahat Puja
Properti : Dua buah kursi tahta Kerajaan
Sebuah microphone
3 buah Mahkota Kerajaan
4 buah tongkat ajaib
Pakaian Kerajaan & sesuai karakter
Seperangkat jamu, tongkat
Gitar dan papan bertuliskan “2 hari kemudian” & “sensor”
Latar : Didalam Istana Parahyangan
Teks : “2 hari kemudian”

Roman Picisan Mukadima / Dewa

Raja & Ratu marah, sedih atas tindakan peri jahat, oleh karenanya mereka mengadakan sayembara bagi seluruh perawan diseluruh pelosok negeri untuk dapat membangunkan pangeran dari tidurnya dan sebagai imbalannya akan dijadikan pendamping hidup Sang Pangeran

Tn.Wor-wor :
Pengumunan-pengumuman bagi seluruh perawan dibuka
lowongan menjadi pendamping hidup Pangeran asalkan dapat membangunkan Pangeran dari tidurnya
(Datanglah berduyun-duyun seluruh perawan dari seluruh pelosok negeri)

Malam Pertama / Rossa

Tn.Wor-wor
Baiklah, peserta pertama….kita tampilnya….perawan Jawa
dari Negeri Babatan. Inilah.. ..Sri.. ..Min.. .ten.. ..

Sri Minten :
Kulo nyuwun kaleh ewu,eh…nyuwun sewu!!! Izinkan
saya membangunkan Pangeran dengan jamu saya. Saya punya jamu :jamu awet muda, awet tua, sampe’ awet melle’ tanpa bahan pengawet

Ratu :
Silahkan Sri Minten !!!

Sri Minten (sambil menjejcdkanjamunyapada Pangeran)
Ayo.. .diminum jamunya biar cepet melle’ ayo.. .ayo.. to…

(Pangeran belum berhasil dibangunkan)

Sri Minten :
Maaf Raja & Ratu hamba tidak mampu membangunkan Pangeran.. .hamba menyerah….! da.. .da…

(pergi meninggalkan ruangan)

Ndang Muliho Sri

Tn. Wor-wor :
karena peserta pertama gagal, maka kita tampilnya peserta kedua…dari Ameriki Sirikit. Inilah….Britney Spriit

Toxic / Britney Spears

Britney Sprit :
Hai good morning!! Raja the raja, Ratu the ratu. I jauh-
jauh datang dari Ameriki Sirikit naik air plane, kelas
ekonomi kesini untuk merayu Pangeran, dengan jogetan
saya yang aduhai….

Ratu :
Silahkan Britney….??? Siapa yach… ? Oh Britney Sprit…

Toxic / Britney Spears

( Briney menari diiringi lagu, seluruh keluarga kerajaan menutup hidungnya karena “BURKET”)

Seluruh anggota Kerajaan:
Hiii…Burket

Britney Sprit :
Ih i’m sorry, Pm malu sekali….! ga’ pake’ rexona rong on, I
hanya pake” setengah on. I want go to home bye-bye….

Tn Wor-wor :
Dikarenakan peserta kedua “BURKET” dan menyebabkan
pencemaran udara, maka ia dieliminasi….Dan kita tampilnya peserta ketiga Mrs. Rock!!!

Rocker j uga manusia / Seriues

Mrs. Rock :
Permizi…Rajaa…(sambil memetalkan tangan) izinkan saya menyanyikan lagu “judi” karena lagu judi dilaknat oleh ALLAH, saya akan menyanyikan lagu “lari pagi” karena hari sudah siang tidak diperkenankan untuk lari siang….Bagaimana kalau kita “begadang” karena begadang tidak baik untuk kesehatan, dengan demikian saya tidak jadi menyanyi “summah na’udubillah”….Karena saya adalah rocker tobat (Mrs. Rock berjalan menuju sisi Pangeran) Pangeran…. bangun…..(menggaruk kepala karena berketombe)

Woooiiin….(memetalkan tangan) Bangun….!!! Ah sudahlah tidak bisa bangun, gue pulang aja lah….

(sambil memainkan gitar, menuju keluar lapangan)

Tn Wor-wor :
Selanjutnya kita tampilnya peserta keempat, gadis manis
dari India. Acca.. .Acca.. .Acca

Khaviolin Kacaman / Various Artist

Pooja :
Perkenalkan he…nama saya puja he…saya suka wedang
jahe….acca…acca…acca…saya kesini he…bawa air suci he…dari sungai gangga he…untuk Pangeran he…(Pooja membangunkan Pangeran dengan memercikkan air sungai gangga diwajah Pangeran) Bangun he…pangeran he… Acca…acca…Ayo bangun acca.. .acca.. .Aduh maaf Raja he.. .saya pulang aja he.. pangeran jelek he…mending Shahrukh Khan he….(pooja pergi meninggalkan ruangan)

Raja :
Mengapa tidak ada yang bisa membangunkan putra kita
Ratu???

Ratu :
Hanya peserta terakhirlah harapan kita ….

Tn Wor-wor :
Selanjutnya.. .kita tampilnya peserta.. ..ada deh.. ..

Aku Perawan
Peri Jahat
He..he..he…meskipun tua-tua gini, aku masih perawan ting…ting… lagi…

(sambil berbicara pada penonton )

padahal mereka tidak tahu aku adalah peri jahat yang
mengutuk Pangeran. Aku menyesal Pangeran sangat tampan sekali ha…ha…3x dan aku pasti bisa membangunkannya. Dengan dua jurus andalanku

Mbah Dukun / Alam
(Perijahat menjampi-jampi Pangeran)
Peri Jahat : Karena jurus pertamaku tidak ampuh dan tidak
mempan…untuk membangunkan Pangeran….kalo begitu akan ku….keluarkan jurus pamungkasku
(Perijahat mencium pangeran “SENSOR” Pangeran bangun)
Pangeran : Aduh.. ..ada apa ini? Bibirku masam sekali
Peri Jahat : Hee….hee….ha….ha…berhasil ~ berhasil….hore..
Pangeran kamu akan jadi suamiku….karena aku satu-satunya orang yang bisa membangunkanmu
Pangeran : Apa…???!!! Tidak…. (pangeran berlari….)
Peri Jahat : Pangeran… .Aku masih perawaa.. .nnnn
Aku Perawan / Krisdayanti







Naskah Drama 7

Lakon Remaja
“Arloji”
Karya P. Hariyanto

PARA PELAKU

Jidul Anak laki-laki berumur 15 tahun
Pak pikun Pembantu rumah tangga berumur sekitar 40 tahun
ibu Nyonya rumah berumur sekitar 42 tahun
Tritis Gadis berusia 18 tahun

KISAH INI TERJADI DI SEBUAH KAMAR DEPAN KELUARGA YANG CUKUP TERPANDANG. TERDAPAT BERBAGAI PERLENGKAPAN YANG LAZIM DI KAMAR TAMU SEMACAM ITU, NAMUN YANG TERPENTING IALAH SEPERANGKAT MEJA DAN KURSI TAMU. PADA KIRA-KIRA PUKUL 09.00 DRAMA INI TERJADI.

DENGAN PENUH KERIANGAN, SI JIDUL MEMBERSIHKAN MEJA DAN KURSI-KURSI. KEPALANYA MELENGGUT-LENGGUT, PANTATNYA BERGIDAL-GIDUL SEIRAMA DENGAN MUSIK DANGDUT YANG TERDENGAR MERIAH. JIDUL TERKEJUT KETIKA MUSIK MENDADAK BERHENTI.


PAK PIKUN (muncul, langsung menuju ke arah Jidul)
Ayo! Mana! Berikan kembali padaku!Ayo! Mana!

JIDUL (ber-ah-uh, sambil memberikan isyarat yang menyatakan ketidakmengertiannya)

PAK PIKUN
Jangan berlagak pilon! Siapa lagi kalau bukan kamu yang mengabilnya? Ayo, Jidul, kamu sembunyikan di mana, heh?

JIDUL (ber-ah-uh, semakin bingung dan takut)

PAK PIKUN
Dasar maling! Belum sampai sebulan di sini kamu sudah kambuh lagi, ya? Dasar nggak tahu diri! Ayo, kembalikan kepadaku! Mana, heh?

JIDUL (meringkuk diam)

PAK PIKUN (semakin keras suaranya)
Jidul! Kamu mau kembalikan apa tidak? Mau insaf apa tidak? Apa mau ku panggilkan orang-orang sekampung untuk mencincangmu, heh? Kamu mau dipukuli seperti dulu lagi? Ayo, mana?

IBU (Muncul tergesa-gesa)
Eh, ada apa Pak Pikun? Ada apa dengan Jidul?

PAK PIKUN
Anak ini memang tidak pantas dikasihani, Bu. Dia mencuri lagi, Bu!

IBU
Mencuri? (tertegun). Kamu mencuri, Jidul?

JIDUL (ber-ah-uh sambil menggoyang-goyangkan kepala dan tangannya)

PAK PIKUN
Mungkir, ya? Padahal jelas, Bu! Tadi saya mandi. Setelah itu, arloji saya tertinggal di kamar mandi. Lalu dia masuk, entah mengapa. Lalu tidak ada lagi arloji saya, Bu.

IBU
O, arloji Pak Pikun hilang, begitu?

PAK PIKUN
Bukan hilang, Bu! Jelas dicurinya! Ayo, ngaku saja! Kamu ngaku saja, Jidul!

JIDUL (ber-ah-uh mencoba menjelaskan ketidaktahuannya)

PAK PIKUN
Masih mungkir? Minta ku pukul?

IBU
sabar, Pak Pikun! Sabar!

PAK PIKUN
Maaf, Bu. Ini biar saya urus sendiri! Kamu baru mau ngaku kalau dipukul, ya? Sini! (Mau memukul si Jidul).

SI JIDUL (Meloncat, lari ke luar dikejar oleh Pak Pikun)

IBU
Sabar dulu Pak Pikun! Diperiksa dulu! (mendesah sendiri) Ya, ampun! Orang sudah tua kok gegabah, tidak sabaran begitu.

TRITIS (Muncul membawa buku dan alat tulis).
Uh! Pagi-pagi sudah mencuri. Nganggu orang belajar saja!

IBU
Belum jelas, Tritis!

TRITIS
Ah, ibu sih suka membela si Jidul! Siapa lagi kalau bukan dia yang mengambil arloji Pak Pikun? Apa ibu lupa? Dia kan dulu ketahuan mencuri ayam kita, ketahuan, mau dipukuli orang kampung malah kemudian dibela ayah dan ditampung di rumah kita. Keenakan dia, maka kini mencuri lagi!

IBU
Ya, memang, dulu pernah mencuri. Itu karena ia kelaparan. Tetapi, belum tentu sekarang dia mengambil arloji Pak Pikun, Tritis!

TRITIS
Kalau bukan si Jidul, apa ibu atau aku yang mengambil arloji itu, ibu? (Tertawa).

IBU (Menemukan ide).
Ah! Mungkin masih ada di kamar mandi, Tritis! Atau mungkin di dekat jemuran. Pak Pikun kan pelupa. Mari kita coba mencarinya! (Bersama Tritis melangkah ke kiri akan ke luar, tetapi kemudian terhenti)
Terdengar suara ribut. Si Jidul kembali meloncat masuk dari kanan. Maunya berlari, tetapi tersandung sesuatu. Ia jatuh terguling mengejutkan Ibu dan Tritis. Dan sebelum sempat bangkit, Pak Pikun sudah keburu masuk pula dan menangkapnya dengan geram.

PAK PIKUN (sambil mengacung-acungkan penggada besar, tangan kirinya tetap mencengkeram leher kaus si Jidul).
Mau, lari ke mana lagi, heh? Ku pukul kamu sekarang!

IBU
Sabar, Pak! Tunggu dulu!

PAK PIKUN
Tunggu apa lagi, Bu! Anak nggak benar ini harus saya ajar biar kapok. (Akan memukulkan penggadanya).

IBU
Tunggu dulu! Siapa tahu, Jidul benar tidak mencuri dan Pak Pikun yang tidak benar menaruh arlojinya!

PAK PIKUN
Tak mungkin, Bu! Saya yakin, si Brengsek ini pencurinya. Kamu harus mampus (akan memukulkan penggadanya).

TRITIS (Melihat tangan Pak Pikun)
Eh, lihat! Arlojinya kan itu! Di pergelangan tangan kananmu, Pak Pikun. Lihat! (Tertawa ngakak).

IBU
O, iya! Betul! Dasar Pak Pikun ya Pikun! (Tertawa geli).

PAK PIKUN TERTEGUN MEMANDANG PERGELANGAN TANGANNYA YANG KANAN. DILEPASKANNYA SI JIDUL. DIAMAT-AMATINYA ARLOJI ITU. PENGGADANYA SUDAH DIJATUHKAN. DENGAN SANGAT MALU, IA BERJALAN KE LUAR TERTEGUN-TEGUN, DIIRINGI GELAK TAWA IBU DAN TRITIS. SEMENTARA ITU, SI JIDUL PUN TERTAWA-TAWA PULA DENGAN CARANYA SENDIRI YANG SPESIFIK
.
Sumber: Cerita Rekaan dan Drama, Modul Universitas Terbuka






Naskah Drama 8

Lakon Remaja
“MEUNASAH”
MEREKA TELAH MEMBAKAR MEUNASAH KITA


Karya Zakh Syairum Majid

SEORANG PEREMPUAN REMAJA MEMAKAI KRUK BERJALAN TERTATIH-TATIH KE TENGAH PANGGUNG. BERHENTI DIAM. MATANYA MENERAWANG JAUH KE DEPAN. KEMUDIAN DIA DUDUK DI TENGAH PANGGUNG. MENANGIS TERISAK

AISYAH
Emak akan pulang, kan ? Lihat, lihat aku telah menemukan beberapa butir peluru yang membuat Bang Yunus terkapar dan mati ? Peluru yang manghadiahkan kematian bagi Bang Yunus saat ulang tahunnya yang ke-25. Sebelum dia berangkat di pagi itu menuju Jawa, tempat dia menuntut ilmu.
Tapi mereka siapa, Mak ? Meraka siapa, Yah ? Orang –orang yang berbaju doreng itu ? Katanya, mereka datang hendak membebaskan kita dari penderitaan yang berkepanjangan ini ? Orang-orang itu menuduh Bang Yunus sebagai mata-mata, entah mata-mata siapa. Mereka hanya bisa menuduh tanpa alasan yang jelas, atau memang itu sudah tabiat mereka ?
Mengapa kita tak pernah merdeka, Mak ? Tapi, merdeka itu sebenarnya artinya apa, Mak ? Dan peluru tak mungkin bisa diajak bicara. Dan di Meunasah juga tak pernah diajari apa itu peluru, untuk apa peluru dan bagaimana cara membunuh dengan peluru.

DARI DALAM ADA SUARA MEMANGGIL-MANGGIL

NOORA
Aisyah, Aisyah, dimana kau ? Hari sudah menjelang maghrib.

AISYAH
Hari sudah menjelang maghrib ? Bagiku hari sama saja. Bagiku waktu sama saja. Penindasan dan kekejaman.

NOORA
Aisyiah, Aisyiah, dimana kau ? Tak baik Inong keluyuran maghrib-maghrib. Kau dimana ?

ADA SUARA ANAK-ANAK MENYANYI
Bungong jeumpa…..,bungong jeumpa….meugah di Aceh
Bungong telebeh…bungong telebeh..indah lagoina..

HENING. AISYAH BANGKIT. SEPERTI MENCARI SESUATU.

AISYAH
Bungong jeumpanya sudah gak ada lagi ( sedih ). Wanginya pun juga sudah tidak ada meski sisa di angin lalu. Hanya amis darah, bungong jeumpanya amis darah. Di bawah pohon bungong jeumpa itu Bang Yunus ditembak mati para pengecut itu. Mereka benar-benar pengecut !

ADA SUARA ANAK-ANAK MENYANYI, SAYUP-SAYUP

Bungong jeumpa..bungong jeumpa..meugah di Aceh
Bungong lelebeh..bungong lelebeh..indah lagoina
Puteh kuneng mejampu mirah
Keumang siulah cidah that rupa..

AISYAH MENANGIS. SUARA TERPUTUS-PUTUS.

AISYAH
Bungong jeumpanya sudah tidak wangi. Inong sudah tidak wangi. Mana ada di tanah air ini yang masih wangi. Hanya darah. Tanah ini penuh cerita tentang darah dari dahulu. Sampai Cut Nyak Dien pun dikhianati. Anak-anak pun dibunuhi. Bukankah darah lebih merah dari bunga mawar mana pun yang tercantik ? Tapi ada kriteria cantik dan tak cantik, apa ? Suara rentetan bedil yang memberondong anak-anak Meunasah pun bukankah terdengar indah bagi telinga para penembak jahanam itu ?
Ya, ya, aku dengar suara itu. Suara ketawa yang nyinyir di antara jerit tangis anak-anak Meunasah. Dan Bu Salehah ? Kau tahu apa yang terjadi dengan Bu Salehah ?
Aku tak pernah menceritakan kepadamu. Banyak dan terlalu banyak nestapa ditaburkan di atas tanah ini. Mungkin kau akan bosan dengan cerita-cerita pembantaian di tanah kami. Mungkin kau tak tahu berapa jumlah anak-anak yang dibunuhi setiap harinya di tanah ini ? Mungkin kau tak tahu berapa jumlah anak-anak yang tak sekolah lagi di tanah penderitaan ini ?

NOORA
Mainnya jangan jauh-jauh, Aisyah. Ayo, pulang ke rumah, Inong.

NOORA DATANG MENDEKATI AISYAH. MEMBELAI-BELAI KEPALANYA. SAMBIL LIRIH MENYANYIKAN LAGU BUNGONG JEUMPA.
HENING. SESAAT

AISYAH
Bagaimana keadaan Meunasah, Noora ? Apakah anak-anak itu, teman-teman kita sudah pada masuk lagi untuk mengaji, Noora ? Apakah mereka sudah siap mengikuti ujian, Noora ? Apa Bu Salehah….

NOORA
Sst. Ayo, kita pulang Aisyah. Hari menjelang malam. Sebentar lagi banyak binatang malam yang jahat keluar dari sarangnya. Apalagi kita kaum perempuan, harus segera pulang ke rumah.Mengunci pintu rapat-rapat. Ayo kita pulang, Aisyah. Tak baik kita tetap di sini. Nanti keluargamu kelabakan mencarimu. Kita tak ingin seperti Malika, teman sekolah kita, yang jenazahnya ditemukan dipinggir kali, seperti habis diperkosa dan dibunuh dengan sadis.

AISYAH
Dan kesadisan mereka tak memandang siapa, meski gadis cacat seperti Malika. Tak ada yang peduli. Juga para penguasa itu, mereka tetap saja bisa tidur nyenyak padahal rakyatnya berteriak-teriak minta dilindungi. Sudahlah, siapa yang mau peduli pada rakyat kecil seperti kita.
Aku tidak mau pulang. Aku mau menjaga Meunasah kita. Aku tak mau binatang-binatang malam jalang itu merusak Meunasah kita. Memperkosa dan membakar hidup-hidup Bu Salehah. Aku tak mau. Meunasah itu adalah rumah kita juga, Noora. Apakah kita rela jika rumah kita dihancurkan orang lain, Noora ? Dimana kita bisa berlindung dari hujan, dingin, sengatan matahari, Noora ?
Dimana kita dan teman-teman kita belajar ? Aku tak ingin, aku tak ingin ada yang merampas Meunasah itu apalagi membakarnya !

NOORA
Tak ada yang akan membakar Meunasah kita, Aisyah. Percayalah. Yakinlah. Semua akan aman-aman saja.

AISYAH
Kau jangan bohong, Noora. Kamu jangan terpengaruh apa kata-kata mereka. Meunasah adalah juga pusaka kita. Tanpa Meunasah kekuatan kita akan lemah dan mudah dibodohi lalu dibunuhi. Meunasah itu punya sejarah panjang, Noora. Para pejuang tanah air ini yang membangunkannya, sejak jaman kejayaan tanah air ini. Aku tak yakin orang-orang jahat itu akan membiarkan Meunasah itu tetap berdiri. Mereka takut pada gemuruh suara anak-anak mengaji, suara anak-anak bersyalawatan, anak-anak berpuisi dari dalam Meunasah itu. Mereka takut. Maka mereka berusaha membakar Meunasah kita dan membunuh kita dan teman-teman kita. Sadarlah, Noora.
Lihat pelor-pelor di tanganku ini, Noora. Ini yang telah membunuh Bang Yunus, Hasan, Ibrahim, Laka, Maryam, Fatimah dan teman-teman kita yang lain. Lihat, darah kering mereka masih ada. Dan ini sebutir peluru yang menghajar pahaku dan membuat kaki satuku pincang. Mereka tak peduli siapapun, mereka akan menghancurkan Meunasah itu meski yang menghalang-halangi mereka, anak-anak seperti kita, mereka tidak peduli bahkan kalau perlu menembaki membunuhi. Mungkin mereka tak pernah mengalami masa remaja seperti kita dan juga tak pernah punya anak seusia kita. Karena mereka sudah disiapkan hidup sebagai makhluk yang buas, yang membunuhi siapa saja.

TERDENGAR LIRIH ANAK-ANAK BERSHOLAWATAN. TAPI TIBA-TIBA TERDENGAR RENTETAN SENAPAN. ADA ISAK TANGIS. ADA JERITAN MENYAYAT.

AISYAH MENUTUPI KEDUA TELINGANYA. TUBUHNYA BERGETAR. NOORA BERUSAHA MENENANGKAN.

AISYAH
Dengar, dengar derap langkah mereka mulai mendekat. Mereka bersiap menghancurkan Meunasah kita. Mereka akan membakar Meunasah kita. Mereka akan membakar Meunasah kita.

AISYAH PANIK. BERLARI KE SANA KE SINI. NOORA KEWALAHAN MENENANGKANNYA.

NOORA
Tak ada yang hendak membakar Meunasah kita, Aisyah. Tenanglah. Tenanglah. Sebutlah nama Allah banyak-banyak, Aisyah !

AISYAH
Mereka sudah datang, Noor. Mereka semuanya membawa bedil dan api. Mereka akan membakar Meunasah kita dan menembaki siapa saja yang bersikeras mempertahankannya. Kita harus menolong Bu Salehah dan teman-teman kita. Mereka tak pantas dibunuh dengan cara kejih seperti itu. Mereka biadab, Noor. Meunasah kita akan dibakar, Noor. Meunasah kita akan dibakar.

AISYAH TETAP PANIK. KEMUDIAN TERDENGAR GEMURUH API MEMBAKAR.

AISYAH
Mereka telah membakar Meunasah kita, Noor. Sedang kita tak berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Kita pengecut, kita munafik. Mengapa kita takut mati.

AISYAH MENANGIS. MENJERIT.

NOORA
Tenanglah, Aisyah. Tak ada yang membakar Meunasah kita, lihat Meunasah kita masih berdiri megah.

NOORA MENENANGKAN AISYAH. MEMBELAI-BELAI KEPALANYA, MENDEKAPNYA. HENING, SENYAP. CAHAYA REDUP.

PERLAHAN ADA IRING-IRINGAN JENAZAH. ANAK-ANAK REMAJA MENGUSUNG SEBUAH KERANDA. LAMAT-LAMAT. BISU. SUNYI. LENYAP. KEMUDIAN LAGU BUNGONG JEUMPA MUNCUL KEMBALI.

AISYAH BANGKIT.
MATANYA SAYU. KEMUDIAN NOORA MEMELUK ERAT TUBUH AISYAH KEMBALI. MEMBENAMKAN KEPALANYA DALAM DEKAPANNYA. LALU MENYENANDUNGKAN LAGU BUNGONG JEUMPA BERIRINGAN DENGAN NYANYIAN BUNGONG JEUMPA YANG SAYUP DINYANYIKAN ANAK-ANAK.

AISYAH
Noor, pohon bungong jeumpa di halaman Meunasah kita, yang merupakan pohon bungong jeumpa satu-satunya di kampung kita, masih hidup ? Masih ada bunganya ? Beberapa hari yang lalu, bunganya mekar lebat-lebat. Aku memetiknya kemudian kusuling menjadi minyak, lalu aku berikan untuk Bu Salehah dan kubagi-bagikan kepada teman-teman kita agar semua merasakan wanginya. Dan untuk Bu Salehah, itu hadiahku untuk acara pernikahan dia, agar kedua mempelai itu lebih wangi. Dan akan aku nyanyikan lagu bungong jeumpa sewaktu mereka melangsungkan pernikahan nanti. Pohon bungong jeumpa itu masih ada, kan ?

NOORA
Pohon bungong jeumpa itu masih ada. Kamu jangan khawatir. Penghuni Meunasah itu juga kita akan selalu menjaganya, akan selalu merawatnya agar bunganya lebat, agar kita bisa memetiknya, agar kita bisa menyuling minyaknya, agar kita bisa membagi wanginya kepada siapa saja.

AISYAH
Membagi wanginya kepada siapa saja ? Aku tidak mau membagi wanginya kepada orang-orang yang ingin membakar Meunasah kita dan membunuhi orang-orang kampung kita, Noor. Aku tidak rela membagi wangi bungong jeumpa kepada mereka, aku pun tak rela jika kau melakukannya.

NOORA
Aisyah, bukankah kebaikan kita untuk siapa saja, hatta mereka adalah musuh kita. Bukankah Sang Nabi melarang kita untuk mendendam. Ketika batu-batu Taif dilemparkan tangan-tangan kasar itu sampai melukai tubuhnya, sampai darahnya menggenangi terompahnya, beliau tidak mengumpat, ataupun menyumpah serapahi manusia-manusia itu, tapi malah beliau mendoakan dengan doa yang indah. Jangan menyimpan dendam, Aisyah.

AISYAH
Tapi hendak membakar Meunasah kita. Bukankah Sang Nabi juga menyuruh agar kita tidak lari ketika bertemu musuh, apalagi musuh hendak menghabisi kita. Noora, aku tak rela jika mereka menghanguskan Meunasah juga pohon bungong jeumpa kita. Aku tak rela. Aku tak rela. Lihat ini buktinya, pelor-pelor ini, Noora ! Apa tak cukup kekejaman mereka, yang membunuhi tidak hanya bapak dan ibu-ibu kita, bahkan anak-anak seperti kita. Apa artinya peperangan ini, Noora. Apa artinya ? Apakah orang-orang tua hanya bisa menyelesaikan dengan jalan kekerasan ? Dan kematian, Noora ? Bukankah terlalu indah jika atas nama Allah, seperti yang dikisahkan pada Hikayat Perang Sabil. Kita tak perlu takut pada kematian, Noora meski kita merasa masih remaja.
Karena kematian akan datang menjemput siapa saja tak memandang usia.
Kematian lebih pasti meminang kita. Saat bunga-bunga sejati diberikan pada kita. Dan Meunasah kita akan ada yang menjaganya, meski kita mati dahulu, insya Allah, meski hanya ruhnya. Jangan-jangan kau pikir remaja-remaja yang hadir adalah remaja-remaja teroris, bukan, tapi remaja-remaja yang punya keberanian mempertahankan kedaulatan negeri ini. Bahkan remaja-remaja pengecut yang bersembunyi di ketiak harta dan narkoba. Dan pohon jeumpa itu akan selalu rimbun bunga-bunganya, akan menaburkan semerbak wangi ke penjuru negeri.

KEMUDIAN ADA SEORANG ANAK PEREMPUAN BERLARI TERGESA-GESA

SEORANG ANAK PEREMPUAN
Cepat, cepat lari, selamatkan diri kalian. Mereka telah datang hendak menghancurkan kampung kita. Juga Meunasah kita.

AISYAH TERPERANJAT. JUGA NOORA.

AISYAH
Sudah kubilang apa. Mereka sama saja. Untuk apa kita berlari dari mereka. Aku tak mau mati dalam kepengecutan dan kemunafikkan. Aku akan melawan mereka. Meunasah itu tak boleh hancur. Aku tak rela jika Meunasah itu hancur. Aku tak rela.

NOORA MENARIK-NARIK TANGAN AISYAH UNTUK SEGERA PERGI MENGHINDAR DARI BAHAYA YANG MENGANCAM, TAPI AISYAH MERONTA-RONTA. SAMPAI AKHIRNYA TANGAN AISYAH LEPAS DARI PEGANGAN NOORA DAN AISYAH PUN BERGEGAS TERTATIH MENYONGSONG MAUT. SEDANGKAN NOORA MENGEJAR AISYAH SAMBIL KEBINGUNGAN.

KEMUDIAN TERDENGAR SAYUP NYANYIAN
bungong jeumpa..bungong jeumpa meugah di Aceh
bungong lelebeh..bungong lelebeh indah lagoina
puteh kuneng mejampu mirah
keumang siulah cidah that rupa…

SAYUP. REDUP. HANYA SUARA RENTETAN BEDIL DAN API YANG MENGGEJOLAK.

BIODATA PENULIS

Zakh Syairum Majid (Surono B Tjasmad), lahir di Pekalongan, 16 Mei 1980, alumni Institut Pertanian Bogor. Aktif sebagai Wakil Ketua Forum Lingkar Pena Bogor. Karya berupa cerpen dan puisi pernah dimuat dalam Republika, Suara Karya, Tabloid MQ, Elegi Gerimis Pagi (Antologi Cerpen Mini KSI Award 2002), Yang Dibalut Lumut (Antologi Cerpen Lomba Kreativitas Pemuda 2003, Depdiknas), Muli Sikep (Antologi Cerpen Krakatau Award 2003), dll. Cerpennya yang bertajuk “Elegi Gerimis Pagi” memenangkan Komunitas Sastra Indonesia Award 2002, sedangkan cerpennya yang berjudul “Jejak-Jejak Terhapus Hujan” memenangkan juara III Lomba Cipta Cerpen Kreativitas Pemuda Depdiknas 2003. tinggal di Wisma Dolphin Balebak 32 Balumbangjaya, Bogor. (0251) 621628 / 081310326178.






Naskah Drama 9
Lakon Remaja
“TERBELENGGU”
Karya H. ADJIM ARIJADI

DALAM SEBUAH RUANG TENGAH YANG CUKUP MEWAH. ADA DUA PINTU YANG MENGHUBUNGKAN RUANG LAIN DAN KEHALAMAN LUAR. SATU PERANGKAT KURSI TAMU DAN SATU KURSI GOYANG DEKAT JAM DINDING.

SEORANG IBU TIDUR TERLENA DI KURSI GOYANG. JAM BERBUNYI 12 KALI. SEORANG AYAH MUNCUL DARI RUANG DALAM DALAM PAKAIAN TIDUR. SI AYAH TERUS SAJA MENENGOK KAMAR TIDUR ANAK-ANAKNYA, KEMUDIAN IA BURU-BURU MEMBANGUNKAN SI IBU YANG TERTIDUR DI KURSI GOYANG.

AYAH (Membangunkan Ibu)
Bu, hei, bangun.

IBU MENGGELIAT SAJA

AYAH
Astaga ? Hei, Bangun.

IBU
Ada apa pak ?

DENGAN RASA MALAS

AYAH
Katanya giliran jaga. Mana mereka, mana ?

IBU
Siapa ?

AYAH
Kurang ajar ! Masih juga bertanya ! Kemana mereka pergi ?

IBU
Siapa yang pergi ?

AYAH
Lihat di kamar tidurnya. Dan lihat pintu itu.

IBU
Asstgfirullah. Bangsat. Kurang ajar. Sundal !

AYAH
Yah. Menyumpahlah terus. Kalau anakmu itu seperti sundal, lalu engkau ibunya, apa nama nya ?

IBU
Mh! Maunya bertengkar saja. Yang penting bagi kita adalah mencarinya!

AYAH
Apa! Malam-malam begini, kau suruh aku mencarinya ? ini adalh tugas yang berjaga !

IBU
Kau kira, mereka itu Cuma anak ku sendiri ?

AYAH
Kalau begitu telepon polisi. Beri mereka uang. Perintahkan mereka untuk mencarinya.

IBU
Pak. Mereka adalah anak-anak kita dan kejadian ini masih dalam rahasia rumah tangga. Kenapa mesti memberi tahu polisi ?

AYAH (Langsung Ambil Gagang Telpon)
hallo, ya…hallo. Selamat malam…… apakah benar di situ POS SEKTOR POLISI KECAMATAN ?......... terimakasih…….. begini pak…….. ya……. O, disini, nomor 68007. jalan james bond…….. apa ? ……oh, bukan. Jangan main-main pak. Saya bukan rooger more. Ini serius pak. Ya…….. apa? E, begini pak polisi. Dua orang anak gadis saya hilang…. Apa?..... oh, bukan. Bukan di curio rang. Tapi mereka pergi malam-malam, tanpa ijin kami orang tuanya…… tentu…. Ya? Hallo……. Begitu? Itu baik sekali pak. Silahkan ……..

(Tiba-Tiba Kedua Puteri Nya Muncul, Si Ayah Menyumpah Sedang Hubungan Telepon Belum Putus).

Bangsat ! jahannam !

(Baru Sadar Kata Kata Itu Sampai Ketelinga Polisi)

oh, maaf pak. Saya bukannya…….. yah. Maaf pak.

(Meletakan Gagang Telepon Dengan Cepat)

kurang ajar. Anak jadah!

IBU
Sudahlah pak. Yang penting mereka sudah kembli.

AYAH
Semua ini gara-gara engku sendiri. Salah didik!

IBU (EMOSI)
apa? Salahku? Akusalah didik?

AYAH
yah!

IBU
Lastari, nora, ayoh masuk kamar tidur. Ayahmu harus ku hajar sekarang juga. Harus ku beri pelajaran dia agar menjadi ayah yang baik.

LASTARI
Ibu. Tak baik rebut-ribut tengah malm begini.

NORA
Betul, yah. Nanti orang bilang, keluarga kita tak bermoral. Tak berpendidikan.

AYAH
Kurang ajar! Masih saja menasehati orang tua? Semua ini gara-gara kamu dan kamu dan ibu mu itu!

IBU
Diam! Mau menang sendiri! Lastari, nora, masuk kamar kataku.

AYAH
Dasar perempuan. Bikin pusing otak laki-laki.

IBU
Oh, kau salah kan kaum perempuan hah? Kalau bukan karena engkau, anak-anak yang kau katakana kurang ajar ini, tidak akan lahir ke muka bumi ini. Laki-laki maunya bikin anak melulu, tapi tidak pernah berbuat baik terhadap anak-anak.

AYAH
Apakah kau kira, aku sebagai laki-laki tidak bias mendidik anak-anak? Kalau saja tidak engku rusak system pendidikan ku, anak-anak kita ini tidak akan jadi sundal bolong.

LASTARI
Ayah menuduhku sundal bolong?

NORA
Saya tidak terima, saya akan adukan ayah ke polisi. Saya merasa terhina.

TERDENGAR KETUKAN DI DEPAN PINTU

IBU
Siapa ?

POLISI (Suara Di Luar)
saya polisi.

IBU
Polisi?

AYAH
Siapa yang panggil polisi?

IBU
mh. Masih saja bertanya.

POLISI (Kembali Mengetuk Pintu)
boleh saya masuk ?

AYAH
Sebentar!

IBU (Setengah Berbisik)
saya sudah sarankan agar urusan keluarga jangan di tangani polisi. Memalukan.

POLISI LEBIH KERAS MENGETUK PINTU

IBU
Ya! Baik saya akan persilahkan polisi itu masuk.

SEGERA MENUJU PINTU

POLISI
Selamat malam.

IBU
Selamat malam. Silahkan masuk.

(Polisi berada di ruangan tamu. Di pandangin satu persatu dari ayah, ibu, kemudian nora dan lastari)

Dan kau berdua, memang betul tidak di rumah?

LASTARI
Betul pak. Sedang keluar.


AYAH
Bukan main, jaman terlalu moderen, seorang anak sudah berani menuntut ayahnya di depan pengadilan.

NORA
Kata-kata ayah sangat menghina saya, kata-kata itu sama saja dengan memperkosa kegadisan saya.

AYAH
Percuma saja bangku sekolah, kalau tidak bias membedakan antara penghinaan dengan pemerkosaan. Memperkosa itu adalah merusak perawan perempuan, tahu?

POLISI
Kemana?

LASTARI
Kami akan menghadapi ujian pak, oleh karena itu, kami harus belajar bersama-sama teman.

POLISI
Di mana?

LASTARI
Di rumah teman.

POLISI
Dan tidak memberi tahu orang tua?

NORA
Untuk apa?

POLISI
Untuk apa? Begitu jawaban adik? Orang tua, adalah pengasuh mu, pendidik dan bertanggung jawab dalam segala hal.

NORA
Tapi, bila minta ijin pasti tidak akan di ijinkan pak.

POLISI
Tidak mungkin, untuk tujuan baik, orang tua pasti mengijinkan. Tapi apa benar, ibu melarang anak-anak keluar rumah?

IBU
Tiap malam saya harus jadi polisi seperti bapak, harus jaga dan sampai tertidur di kursi.

POLISI
Jaga dan tidur di kursi? Maksudnya menunggu anak-anak pulang dari belajar malam hari?

NORA
Bukan pak, ibu harus berjaga di kursi itu untuk menjaga kami jangn sampai keluar malam.

LASTRI
Kami harus pergi dengan diam-diam. Kalau tidak, kami tidak di bolehkan pergi selai pergi kesekolah.

NORA
Kami seperti di penjarakan di rumah ini pak. Tidak boleh bergaul di luar rumah, tidak boleh ikut kegiatan di luar sekolah.

IBU
Dan saya ibunya, harus berjaga tiap malam.

NORA
Dan bapak seenaknya main perempuan di night club.

AYAH (Terperanjat)
kurang ajar!

POLISI
Apa benar pak?

AYAH
Saya sudah bosan tinggal di rumah ini.

IBU
Juga aku, ibu anak-anak, merasa tak sanggup di permainkan seperti murahan malam ini juga. Yah. Malam ini juga aku minta cerai, dan aku mau meninggalkan rumah mereka ini.

NORA
Aku mau ikut bu?

LASTARI
Akhirnya kita terpecah berkeping-keping. Tidakkah bias di beri jalan keluar yang baik?

IBU
Tidak bias. Aku minta cerai. Dan kau lastari, silahkan, mau ikut ibu mu atau ikut ayahmu yang jahanam itu?

POLISI
Begini saja, apakah bapak mau mengakui kesalahan bapak?..........

AYAH
Saya merasa bersalah. Dan saya minta maaf pada ibu, pada isteri dan pada nora.

POLISI
Nah, kalau begitu selesailah sudah. Kalian harus menerimanya. Kita sebagai umat beragama harus siap memaafkan kesalahan sesamanya. Lebih-lebih yang meminta maaf itu adalah dari kalangan keluarga. Tuhan maha pemurah, penyayang dan maha pemaaf. Ibu mau memaafkan suami ibu?

IBU
Hati ku panas seperti kena bara.

AYAH
Ibu, aku memang salah, maafkanlah bu…….lastri, nora, maafkanlah ayah.

POLISI
Nah. Untuk kelanjutan dari penyelesaian ini, saya serahkan saja kepada kalian. Inilah puncak dari sikap satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak. Keselamatan rumah tangga kalian ini, terletak pada kalian sendiri. Kuncinya adalah saling memaafkan. dan penyelesaian ini bukan tugas saya. Saya harus kembali ke pos penjagaan, selamat malam.

POLISI KELUAR

IBU (Fauze)
lastri….. nora …… kalian boleh pilih, ibu atau ayah yang kalian pilih, harus kalian dekati………….

FAUZE

NORA
Saya pilih ibu

MERANGKUL IBU

AYAH
dan aku? …………….…….

(Fauze)

kalau begitu, aku juga, ikut ibumu

MENDEKATI.

IBU (Menjauh Bersama Anak-Anak)
Engkau sudah ku maafkan.

NORA
Aku juga memaafkannya bu?

LASTRI
Semua kita memaafkannya.

AYAH
Terimalah kehadiran ku kembali. Aku bersumpah tidak akan berlaku kejam terhadap kalian. Apa saja kehendak kalian untuk semua kegiatan yang bertujuan baik akan ku ijinkan. Dan kesalahan ku kepada ibu, akan ku perbaiki, aku tidak akan melakukannya.

IBU
Kesalahan adalah kesalahan, dan dosa tetap dosa, sekali pun tuhan tetap memberi ampun. Juga kesalahan terhadap sesama. Aku memaafkannya. Tapi sebagai imbalannya, ayah kalian akan ku hukum sendiri di kamrnya selama enam bulan tahanan. Lastri, nora. Mari tidur.

SEMUANYA MASUK

AYAH (Tinggal Sendiri)
perempuan. Selalu mau menang sendiri. Kalau bukan perempuan, otak laki-laki ini tidak akan berputar, oh tuhan, kenapa kau mesti hadirkan perempuan di muka bumi ini?

SELESAI





Naskah Drama 10
Banjarmasin, 9 Februari 1983.
MENGANALISIS DRAMA
“SAKIT ANEH SANG BAGINDA”


OLEH

RIKARDUS PAIRE BANI

NIM:061 644 021

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

2008

“SAKIT ANEH SANG BAGINDA”

Narator : Disebuah negeri timur tengah, berdrilah sebuah kerajaan yang sangat besar dan megah. Tanahnya subur dan berlimpah ruah hasilnya, membuat rakyatnya hidup rukun dan sejah terah. Apalagi kerjaan itu dipimpin oleh seorang raja yang tampan dan gagah berani, membuat negeri itu aman dan damai. Saksikanlah……….!!!

Adegan I

Baginda : (Sambil meletakan swendoknya dalam piringya Islu menarik nafas panjang dalam-dalam dengan tatapan matanya, yang sayup memperhatikan hidangan yang disiapkan). Permaisuriku….?

Permaisuri : ”Ada apa bagindaku…..?

Baginda : “Begini permaisuriku, perutku tersa kering dan mual-mual, rasanya mau muntah sehingga selera makanku menjadi hilang”

Permaisuri : “Ma’af bagindaku, mungkin masakannya kurang enak ya?”

Baginda : “Tidak permaisuriku, makananya sudah enak sekali.”

Pemaisuri : (Permaisuri tidak putus asa, lau memanggil dayangnya). “Dayang….dayang, kemarilah….!

Dayang : (Dengan rergesah-gesah sambil membungkukan badan). “permaisuri memanggil hamba….?”

Pemaisuri : “Ambilkan masan jamur untuk baginda!”

Dayang : “ Baiklah, hamba segera melaksanakan tittah paduka.” (sambil memebawa makanan), “ini makanan untuk paduka, permaisuri”

Permaisuri : “Kembalilah danyangku. Paduka cobalah makan ini mungkin bias mengembalikan selerah makan baginda.”

Baginda :(Mengambil satu sendok nasi lalu mencicipinya…..kemudian)”kauk…kuak…kuak.” (sampai muntah)

Permaisuri : (Dengan tergesah-gesah). “dayang…..dayang…tolong panggilkan tabib kerajaan!”

Dayang : “Ia permaisuri (dengan tergesah-gesah dayang keluar dari ruangan itu dan memanggil tabib. Kemudian dalam waktu yang singkat, dayang kembali dengan seorang tabib kerajaan).

Tabit : “ Ampun permaisuri, adakah yang bisa hambah perbuat….?”

Permaisuri : “Begini tabib, hampir sebulan ini selerah makan baginda terganggu.”

Tabit : “Hamba mohon ampun baginda, ijinkan hamba memeriksa keadaan baginda. (tabib mendekati baginda dan langsung memeriksanya).

Permaisuri : “Bagaimana keadaannya….tabib….?”

Tabib : “Mohon ampun paduka, hamba tidak dapat menemukan penyakit dalam diri baginda, sekali lagi ma’af permaisuri.”

Permaisuri : (Menggeleng-gelengkan kepalanya), “bagaimana ini tabib, apakah tidak ada jalan lain lagi untuk mengetahui penyakit baginda raja….?

Tabib : “Mohon amapun permaisuri, hamba sarankan kalau bisa memanggil abunawas yang mungkin bisa menyembuhkan penyakit baginda raja.

Narator : Pergilah tabib menemui abunawas dan berceritalah mereka tentang penyakit aneh sang baginda raja. Apakah baginda raja dapat disembuhkan…? Apakah abunawas mampu melakukan yang terbaik unttu baginda raja? Saksikan……..!!!

Adegan II

Tabib : “ Abunawas” (sambil menundukkan kepala). “salam sejahtera baginda raja”

Baginda : Apakah kamu yang bernama abunawas….?

Abunawas : “ Mohon ampun baginda, hamba yang bernama abunawas”

Baginda : “ Apakah kamu bisa mengobati penyakitku ini….?

Abunawas : “ Ampun baginda raja, hamba sudah mendengar semua dari tabib kerajaan tentang apa yang paduka derita.”

Baginda : “ Menurutmu, adakah obat yang bisa menyembuhkan penyakitku ini….?”

Abunawas : “ Ada paduka yang mulia.”

Baginda : (Sambil berdiri dengan wajah yang berseri- seri ). “Obat apakah itu abunawas….?

Abunawas : “ Hamba punya saran, di hutan tutupan ada kijang berbulu putih yang dagingnya sagat lezat.”

Baginda : “ Lalu….?”

Abunawas : “ Syaratnya…. Baginda harus menangkap sendiri kijang berbuluh putih itu, apakah baginda sanggup….?”

Baginda : “ Baiklah abunawas, saya sanggup dan besok pagi kita berangkat.” (tanpa ragu-ragu).

Narator : Kemudian pulanglah abunawas ke rumahnya yang letaknya tidak jauh dari singgasana. Abunawas pulang untuk mempersiapkan senua perlengkapan yang akan dibawah. Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Baginda, abunawas dan prajurit kerajaan sudah siap di depan singgasana untuk melakukan perjalanan. Mari…..! kita saksikan adegan berikut ini…..!!!

Adegan III

Baginda : “ Abunawas, apakah semua perlengkapan sudah disiapkan?”

Abunawas : “ Bagaimana prajurit, apakah perlengkapan dari singgasana sudah disiapkan?”

Prajurit 1,11 : “Ampun baginda semuanya sudah siap.”

Baginda : “ Kita berangkat sekarang.”

Narator : Rombongan paduka berangkat dengan membawa perlengkapan berburu, tetapi abunawas sengaja membawa nasih putih, air putih, garam, dan asam. Perjalanan cukup panjang dan melelahkan namun, untuk mencapai tujuan, merekapun dengan bersemangat melanjutkan perjalanannya. Maka tibalah mereka di tegah-tegah hutan. Saksikan…!!!

Adegan IV

Baginda : “ Abunawas, selama perjalanan sampai di tengah hutan ini, tidak satupun binatang yang kita temukan.”

Abunawas : “ Memang betul paduka yang mulia, di sini ada semak-semak duri.”

Baginda : “ Kalau disini hanya semak-semak duri, lalu di mana kijang berbulu putih itu….?”

Abunawas : (Diam sejenak sambil tersenyum). “Begini baginda raja, konon kabar kijang berbulu putih itu muncul secara tiba-tiba.”

Baginda : (Sambil mengusap keringat dan menghela napas panjang). Oh… begitu ya abunawas?

Abunawas : “ Ya baginda raja. Kalau begitu, kita istirahat dulu sambil mencari sumber air.”

Baginda : “ Baiklah abunawas.”

Prajurit 1 : “ Mohon ampun paduka, tidak jauh dari sini ada sumber mata air.”

Abunawas : “ Oh…benar paduka. Lebih baik kita segera ke sana.”

Narrator : Lalu dengan langkah pasti, paduka bersama abunawas, dan prajurit-prajuritnya bergegas menuju sumber mata air dan tidak lama kemudian mereka tiba di sumber mata air tersebut. Saksikan….!!!

Adegan V

Baginda : (Menghela napas panjang). “ oh….indah sekali abunawas keadaan ala mini, airnya sangat jernih yang membuatku tidak tahan lagi untuk meminumnya. Dengan air ini, benar-benar menghilangkan dahagaku.”

Abunawas : “Betul paduka, air sangat jernih.”

Prajurit 1,11 : “Mohon ampun paduka, ijinkan hamba memita paduka untuk beristirahat di sini (menunjukkan tempat yang disediakan).”

Baginda : “Terimah kasih prajuritku.” (berjalan memnuju tempat istirahat)

Abunawas : “Ampun baginda, ijinkan hamba untuk mencari ikan di muara itu. (sambil menuju ke arah muara yang tidak jauh dari peristirahatan mereka).”

Baginda : “Oh…silakan abunawas, kebetulan perutku sudah lapar.”

Abunawas : “mohon ampun baginda, hamba dan prajurit segera mencari ikan di sana.”

Narrator : Lalu abunawas bersama prajurit menuju ke muara. Saksikan apakah mereka benar-benar menemukan ikan di muara….?

Adegan VI

Prajurit 11 : “Abunawas, lihatlah ternyata di muara ini banyak sekali ikannya dan sungguh menakjutkan.”

Abunawas : “Oh….betul sekali prajurit.jika kita bisa menangkapnya maka kita akan menikmatinya sampai puas. (sambil menanjapkan sebilah bambu yang sudah diruncing ke arah ikan-ikan di muara).”

Narrator : Berkali-kali abunawas menancapkan bambu ke arah ikan, sehingga ia mendapat beberapa ikan yang sangat besar. Lalu abunawas bersama prajurit bergegas menuju ke tempat baginda beristirahat, sambil membawa ikan hasil tangkapan mereka.

Prajurit 1 : “Mohon ampun baginda, abunawas dan prajurit sudah dating dan membawa bebberapa ikan hasil tangkapan.”

Baginda : “Oh…ikannya besar sekali, rupanya mereka pandai menangkap ikan.”

Abunawas dan prajurit: (dengan wajah tersenyum, tibalah mereka di tempat peristirahatan baginda raja).

Abunawas : “Mohon ampun baginda raja, imilah ikan tangkapan kami.”

Baginda : “kalau begitu bakarlah ikan-ikan itu.”

Abunawas : “Baiklah baginda, hamba akan melakukan perintah.” (sambil tersenyum).

Narator : Bergegaslah abunawas membakar ikan hasil tangkapan mereka dengan hati gembira, abumawas mengkipas bara api sehingga aroma ikan-ikan itu tercium hidung baginda raja. Setelah ikan-ikan itu matang, abunawas membuka bungkusan bekal yang dibawanya. Saksikan…..!!!

Adegan VII

Abunawas : (Sambil menyungguhkan ikan baker yang lezat itu kehadapan baginda raja ). “ampun baginda, ijinkan hamba mempersilakan paduka menikmati ikan-ikan bakar ini.”

Baginda : “Terimah kasih abunawas.”

Narrator : Ternyata baginda raja sangat menikmati masakan-masakan yang sudah disiapkan abunawas bersama prajuritnya. Saksikan…..!!!

Adegan VIII

Baginda : “Abunawas, ikannya enak sekali seperti makanan ini akan saya habiskan.”

Abunawas : “Ampun baginda raja, dengan makanan ini apaka selerah makan baginda sudah pulih kembali?”

Baginda : “Ya, rasanya selerah makanku sudah pulih. Kalau begitu lanjutkan perjalanan mencari kijang berbulu putih itu.”

Abunawas : “Ampun baginda raja, sebenarnya kijang berbulu putih itu tidak ada.”

Baginda : “lalu, bagaimana kita harus mendapatkan obat unttuk penyakitku ini?”

Abunawas : “Mohon ampun baginda, baginda tidak perlu mencari obat lagi, karena selerah makan baginda sudah pulih kembali.”

Baginda : “Kamu benar-benar abunawas, penyakit anehku sudah sembuh. Bagaimana ini bisa terjadi?”

Abunawas : “Menurut hamba, sebenarnya baginda tida menderita penyakit apapun karena selama ini ketika makan, perut baginda belum terasa lapar apa lagi baginda tidak banyak bergerak.”

Baginda : “Kamu benar-benar cerdik abunawas, kalau begitu lain waktu kita berburu lagi.”

Abunawas : (Sambil tertawa terbahak-bahak) “ha…..ha….ha……ha…….”

Narator : Demikianlah kisah cerita “ SAKIT ANEH SANG BAGINDA” yang membuat kita semakin penasaran untuk mencari tahu apakah kijang putih itu benar-benar ada? sebaga akhir kata “saya ingin menyampaikan mohon ma’af dari hati yang paling dalam bila ada kata-kata dan kalimat yang kurang menyenang di hati para pembaca.”

“TERIMAH KASIH”

A. Tema : ABUNAWAS YANG CERDIK

B. Latar atau Seting

1. Tempat

a. Disebuah negeri timur tengah. Disebuah kerajaan yang sangat besar dan megah.

b. Di tengah hutan

c. Di pinggir sebuah muara

2. Waktu

a. Pada pagi hari

b. Pada siang hari

C. Alur atau Plot

(Tahapan Alur Drama)

1. Pemaparan atau eksposisi : disebuah negeri timur tengah. Disebuah kerajaan yang sangat besar dan megah.

2. Komplikasi : tabib yang menemukan adanya penyakit pada sang baginda

3. Klimaks : abunawas mempunyai obat yang bisa menyembuhkan penyakit baginda yaitu berburu kijang beebulu putih.

4. Penyelesaian/katastrota : baginda tidak memiliki penyakit, dia hanya kurang bergerak.

D. Penokohan atau Perwatakan

Perwatakan Batin

1. Baginda : Tidak nudah putus asa

2. permaisuri : Tidak nudah putus asa, mengurus baginda yang sedang sakit.

3. Dayang-dayang : Selalu setia melayani baginda dan permaisuri

4. Tabib : Bijasana dalam memberi jalan keluar untuk menyembuhkan baginda raja.

5. Prajurit : Setia menemani baginda raja disaat berburu

6. Abunawas : Pintar, cerdik, dan bijaksana

E. Amanat

Agar tidak boleh memperdiksikan sesuatu yang tidak kita ketahui kebenarannya, dan harus saling talong-menolong kepada sesama yang membutuhkan bantuan kita.










NASKAH DRAMA 11.
“BADAI SEPANJANG MALAM”
Karya MAX ARIFIN

Para Pelaku:
1.Jamil, seorang guru SD di Klaulan,Lombok Selatan,berumur 24 tahun
2.Saenah,istri Jamil berusia 23 tahun
3.Kepala Desa,suara pada flashback


Setting :
Ruangan depan sebuah rumah desa pada malam hari.Di dinding ada lampu
minyak menyala.Ada sebuah meja tulis tua. Diatasnya ada beberapa buku
besar.Kursi tamu dari rotan sudah agak tua.Dekat dinding ada balai balai .Sebuah radio transistor juga nampak di atas meja.


Suara :
Suara jangkerik.suara burung malam.gonggongan anjing di kejauhan.Suara Adzan subuh.

Musik:
Sayup sayup terdengar lagu Asmaradahana,lewat suara sendu seruling

Note:
Kedua suami istri memperlihatkan pola kehidupan kota.dengan kata lain,mereka berdua memang berasal dari kota.tampak pada cara dan bahan pakaian yang mereka kenakan pada malam hari itu.mereka juga memperlihatkan sebagai orang yang baik baik.hanya idelisme yang menyala nyala yang menyebabkan mereka berada di desa terpencil itu.

01.Begitu layar tersingkap, nampak jamil sedang asyik membaca.Kaki nya ditelusurkan ke atas kursi di depannya.Sekali sekali ia memijit mijit keningnya dan membaca lagi.Kemudian ia mengangkat mukanya,memandang jauh ke depan,merenung dan kembali lagi pada bacaannya.Di kejauhan terdengar salak anjing melengking sedih.Jangkerik juga menghiasi suasana malam itu. Di kejauhan terdengar seruling pilu membawakan Asmaradahana.
Jamil menyambar rokok di atas meja dan menyulutnya.Asap berekepul ke atas.Pada saat itu istrinya muncul dari balik pintu kamar.


02.Saenah :
Kau belum tidur juga?kukira sudah larut malam.Beristirahatlah,besok kan hari kerja?

03.Jamil:
Sebentar,Saenah.Seluruh tubuhku memang sudah lelah,tapi pikiranku masih saja mengambang ke sana kemari.Biasa, kan aku begini malam malam.

04.saenah:
Baiklah.tapi apa boleh akuketahui apa yang kaupikirkan malam ini?

05.jamil:
Semuanya,semua apa yang kupikirkan selama ini sudah kurekam dalam buku harianku,Saenah.Perjalanan hidup seorang guru muda-yang ditempatkan di suatu desa terpencil-seperti Klulan ini kini merupakan lembaran lembaran terbuka bagi semua orang.

06.Saenah:
Kenapa kini baru kau beritahukan hal itu padaku?Kau seakan akan menyimpan suatu rahasia.Atau memang rahasia?

07.Jamil:
Sama sekali bukan rahasia ,sayangku! Malam malam di tempat terpencil seakan memanggil aku untuk diajak merenungkan sesuatu.Dan jika aku tak bisa memenuhi ajakannya aku akan mengalami semacam frustasi.Memang pernah sekali,suatu malam yang mencekam,ketika aku sudah tidur dengan nyenyak,aku tiba pada suatu persimpangan jalan di mana aku tidak boleh memilih.Pasrah saja.Apa yang bisa kaulakukan di tempat yang sesunyi ini?[Dia menyambar buku hariannya yang terletak di atas meja dan membalik balikkannya] Coba kaubaca catatanku tertanggal…[sambil masih membolak balik]..ini tanggal 2 oktober 1977.

08.Saenah:
[Membaca] “Sudah setahun aku bertugas di Klaulan.Suatu tempat yang terpacak tegak seperti karang di tengah lautan,sejak desa ini tertera dalam peta bumi.Dari jauh dia angker,tidak bersahabat:panas dan debu melecut tubuh.Ia kering kerontang,gersang.Apakah aku akan menjadi bagian dari alam yang tidak bersahabat ini?Menjadi penonton yang diombangkan ambingkan oleh…barang tontonannya.Setahun telah lewat dan selama itu manusia ditelan oleh alam”.[Pause dan Saenah mengeluh;memandang sesaat pada Jamil sebelum membaca lagi].”Aku belum menemukan kejantanan di sini.Orang orang seperti sulit berbicara tentang hubungan dirinya dengan alam.Sampai di mana kebisuan ini bisa diderita?Dan apakah akan diteruskan oleh generasi generasi yang setiap pagi kuhadapai?Apakah di sini tidak dapat dikatakan adanya kekejaman.”[Saenah berhenti membaca dan langsung menatap pada Jamil]


09.Jamil:
Kenapa kau berhenti?jangan tatap aku seperti itu,Saenah.

10.Saenah:
Apakah tulisan ini tidak keterlaluan?Bisakah ditemukan kejujuran di dalamnya?


11.Jamil:
Kejujuran kupertaruhkan di dalamnya,Saenah.Aku bisa mengatakan,kita kadang-kadang dihinggapi oleh sikap sikap munafik dalam suatu pergaulan hidup.Ada ikatan ikatan yang mengharuskan kita berkata “Ya!” terhadap apa pun,sekalipun dalam hati kecil kita berkata”Tidak”.Kejujuranku mendorong aku berkata,”Tidak”,karena aku melatih diri menjadi orang yang setia kepada nuraninya.Aku juga tahu, masa kini yang dicari adalah orang orang yang mau berkata”Ya”.Yang berkata “Tidak” akan disisihkan.[Pause] Memang sulit,Saenah.Tapi itulah hidup yang sebenarnya terjadi.Kecuali kalau kita mau melihat hidup ini indah di luar,bobrok di dalam.Itulah masalahnya.[Pause.Suasana itu menjadi hening sekali.Di kejauhan terdengar salak anjing berkepanjangan]

12.Saenah:
Aku tidak berpikir sampai ke sana. Pikiranku sederhana saja.kau masih ingat tentunya,ketika kita pertama kali tiba di sini,ya setahun yang lalu.Tekadmu untuk berdiri di depan kelas,mengajar generasi muda itu agar menjadi pandai.Idealismemu menyala nyala.Waktu itu kita disambut oleh Kepala Desa dengan pidato selamat datangnya.[S aenah lari masuk.Jamil terkejut.tetapi sekejap mata Saenah muncul sambil membawa tape recorder!] Ini putarlah tape ini.Kaurekam peristiwa itu.[Saenah memutar tape itu,kemudian terdengarlah suara Kepala Desa]’…Kami ucapkan selamat datang kepada Saudara Jamil dan istri.Inilah tempat kami.Kami harap saudara betah menjadi guru di sini.Untuk tempat saudara berlindung dari panas dan angin,kami telah menyediakan pondok yang barangkali tidak terlalu baik bagi saudara.Dan apabila Anda memandang bangunan SD yang cuma tiga kelas itu.Dindingnya telah robek,daun pintunya telah copot,lemari lemari sudah reyot,lonceng sekolah bekas pacul tua yang telah tak terpakai lagi.Semunya,semuanya menjadi tantangan bagi kita bersama.Selain itu,kami perkenalkan dua orang guru lainnya yang sudah lima tahun bekerja di sini.Yang ini adalah Saudara Sahli,sedang yang berkaca mata itu adalah Saudara Hasan.Kedatangan Saudara ini akan memperkuat tekad kami untuk membina generasi muda di sini.Harapan seperti ini menjadi harapan Saudara Sahli dan Saudara Hasan tentunya.”[Saenah mematikan tape.Pause,agak lama.Jamil menunduk,sedang Saenah memandang pada Jamil.Pelan pelan Jamil mengangkat mukanya.Mereka berpandangan]


13.Saenah:
Semua bicara baik-baik saja waktu itu dan semuanya berjalan wajar.

14.Jamil:
Apakah ada yang tidak wajar pada diriku sekarang ini ?

15.Saenah:
Kini aku yang bertanya:jujurkah pada nuranimu sendiri?Penilaian terakhir ada pada hatimu.dan mampukah kau membuat semacam pengadilan yang tidak memihak kepada nuranimu sendiri?Karena bukan mustahil sikap keras kepala yang berdiri di belakang semuanya itu.Terus terang dari hari ke hari kita seperti terdesak dalam masyarakat yang kecil ini.

16.Jamil:
Apakah masih harus kukatakan bahwa aku telah berusaha berbuat jujur dalam semua tindakanku?Kau menyalahkan aku karena aku terlalu banyak bilang”Tidak” dalam setiap dialog dengan sekitarku.Tapi itulah hatiku yang ikhlas untuk ikut gerak langkah masyarakatku.Tidak,Saenah.Mental masyarakat seperti katamu itu tidak terbatas di desa saja, tapi juga berada di kota

17.Saenah:
Kau tidak memahami masyarakatmu.

18.Jamil:
Masyarakat itulah yang tidak memahami aku.

19.saenah:
siapa yang salah dalam hal ini.

20.Jamil:
Masyarakat.

21.Saenah:
Yang menang ?

22.Jamil:
Aku

23.Saenah:
Lalu ?

24.Jamil:
Aku mau pindah dari sini.[Pause. Lama sekali mereka berpandangan.].

25.Saenah:
[Dengan suara rendah]Aku kira itu bukan suatu penyelesaian.

26.Jamil:
[Keras] Sementara memang itulah penyelesaiannya.

27.Saenah:
[Keras]Tidak! Mesti ada sesuatu yang hilang antara kau dengan masyarakatmu.Selama ini kau membanggakan dirimu sebagai seorang idealis.Idealis sejati,malah.Apalah arti kata itu bila kau sendiri tidak bisa dan tidak mampu bergaul akrab dengan masyarakatmu.[Pause]

[Lemah diucapkan]Aku terkenang masa itu,ketika kau membujuk aku agar aku mu datang kemari[Flashback dengan mengubah warn cahaya pelan pelan.Memakai potentiometer.Bisa hijau muda atau warna lainnya yang agak kontras dengan warna semula.Musik sendu mengalun]

28.Jamil:
Aku mau hidup jauh dari kebisingan,Saenah.Aku tertarik dengan kehidupan sunyi di desa,dengan penduduknya yang polos dan sederhana.Di sana aku ingin melihat manusia seutuhnya.Manusia yang belum dipoles sikap sikap munafik dan pulasan belaka.Aku harap kau menyambut keinginanku ini dengan gembira,dan kita bersama sama kesana.Di sana tenagaku lebih diperlukan dari pada di kota.Dan tentu banyak yang dapat aku lakukan.

29.Saenah:
Sudah kaupikirkan baik baik? Perjuangan di sana berarti di luar jangkauan perhatian.

30.Jamil:
Aku bukan orang yang membutuhkan perhatian dan publikasi.Kepergianku ke sana bukan dengan harapan untuk menjadi guru teladan.Coba bayangkan,siapa pejabat yang bisa memikirkan kesulitan seorang guru yang bertugas di Sembalun,umpamanya?Betul mereka menerima gaji tiap bulan.Tapi dari hari ke hari dicekam kesunyian,dengan senyum secercah terbayang di bibirnya bila menghadapi anak bangsanya.dengan alat alat serba kurang mungkin kehabisan kapur,namun hatinya tetap di sana.Aku bukan orang yang membutuhkan publikasi,tapi ukuran ukuran dan nilai nilai seorang guru di desa perlu direnungkan kembali.Ini bukan ilusi atau igauan di malam sepi,Saenah.Sedang teman teman di kota mempunyai kesempatan untuk hal hal yang sebaliknya dari kita ini.Itulah yang mendorong aku,mendorong hatiku untuk melamar bertugas di desa ini.


31.Saenah:
Baiklah, Sayang.Ketika aku melangkahkan kaki memasuki gerbang perkawinan kita,aku sudah tahu macam suami yang kupilih itu.Aku bersedia mendampingimu.Aku tahu,apa tugas utamaku disamping sebagai seorang ibu rumah tangga.Yaitu menghayati tugas suami dan menjadi pendorong utama karirnya.Aku bersedia meninggalkan kota yang ramai dan aku sudah siap mental menghadapi kesunyian dan kesepian macam apa pun.Kau tak perlu sangsi.[Pause senbentar.Pelan pelan lampu kembali pada cahaya semula]

32.Saenah:
Kini aku menjadi sangsi terhadap dirimu.Mana idealisme yang dulu itu? Tengoklah ke kanan.apakah jejeran buku-buku itu belum bisa memberikan jawaban pada keadaan yang kauhadapi sekarang?Di sana ada jawaban yang diberikan oleh Leon Iris,Erich Fromm,Emerson atau Alvin Toffler.Ya,malam malam aku sering melihat kau membuka-buka buku-buku Erich Fromm yang berjudul The Sane Society atau Future Shock nya Alvin Toffler itu.

33.Jamil:
Apa yang kau kauketahui tentang Eric Fromm dengan bukunya itu? Atau Toffler?

34.Saenah:
Tidak banyak.Tapi yang kuketahui ada orang-orang yang mencari kekuatan pada buku-bukunya.Dan dia tidak akan mundur walau kehidupan pahit macam apa pun dosodorkan kepadanya.karena ia mempunyaai integritas diri lebih tinggi dri orang-orang yng menyebabkan kepahitan hidupnya.apakah kau menyerah dalam hal ini?Ketika kau melangkahkan kakimu memasuki desa ini terlalu bnyak yang akan kausumbngkan padanya,ini harsus kauakui.Tapi kini-akuilah-kau menganggap desa ini terlalu banyak meminta dirimu.Inilah resiko hidup di desa.Seluruh aspek kehidupan kita disorot.Smpai sampai soal pribadi kita dijadikan ukuran mampu tidaknya kita bertugas.Dan aku tahu hal itu.Karena aku kenal kau.[Suasana menjadi hening sekali.Pause]
Aku sama sekali tak menyalahkan kau.malah dim diam menghargai kau, dan hal itu sudah sepantasnya.Aku tidak ingin kau tenggelam begitu saja dalam suatu msyarakat atau dalam suatu sistem yang jelek namun telah membudaya dalam masyarakat itu.Di mana pun kau berda.juga sekiranya kau bekerja di kantor.Kau pernah dengan penuh semangat menceritakan bagaimana novel karya Leon Uris yang berjudul QB VII.Di sana Uris menulis,katamu bahwa seorang manusia harus sadar kemanusiaannya dan berdiri tegak antara batas kegilaan lingkungannya dan kekuatan moral yang seharusnya menjadi pendukungnya.Betapapun kecil kekuatan itu.Di sanalah manusia itu diuji.Ini bukan kuliah.Aku tak menyetujui bila kau bicara soal kalah menang dalam hal ini.Tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang.Dialog yang masih kurang.


34.Jamil:
Aku mungkin mulai menyadari apa benda yang hilang yang kaukatakan tadi.generasi sekarang mengalami kesulitan dalam masalah hubungan.Hubungan antar sesama manusia.Mereka mengalami apa yang disebut kegaguan intelektual.kita makin cemas,kita seakan akan mengalami kemiskinan artikulasi.Disementara sekolah di banyak sekolah malah,mengarang pun bukanlah menjadi pelajaran utama lagi,sementara makin banyak gagasan yang harus diberitahukan ke segala sudut.Pertukaran pikiran makin dibutuhkan.


35.Saenah:
Ya,seperti pertukaran pikiran malam ini.Kita harus yakin akan manfaat pertukaran .Ada gejala dalam masyarakat di mana orang kuat dan berkuasa segan bertukar pikiran.Untuk apa ,kata mereka.Kan aku berkuasa.

36.Jamil;
Padahal nasib suatu masyarakat tergantung pada hal-hal itu.Dan kita jangan melupakan kenyataan bahwa masyarakat itu bukan saja berada dalam konflik dengan orang-orang yang mempunyai sikap yang tidak sosial tetapi sering pula konflik dengan sifat sifat manusia yang paling dibutuhkan,yang justru ditekan oleh masyarakat itu sendiri.

37.Saenah:
Itu kan Erich Fromm yang bilang.

38.Jamil:
Memang aku mengutip dia.[Dari kejauhan terdengar suara bedug subuh kemudian adzan]

39.Saenah:
Aduh,kiranya sudah subuh.Pagi ini anak-anak menunggumu,generasi muda yang sangat membutuhkan kau.

40.Jamil:
Aku akan tetap berada di desa ini,sayangku.

41.Saenah:
Aku akan tetap bersamamu.Yakinlah.[Jamil menuntun istrinya ke kamar tidur.Musik melengking keras lalu pelan pelan,sendu dan akhirnya berhenti].


Catatan:
Naskah ini pernah dimuat dalam buku Kumpulan Drama Remaja, editor A.Rumadi.Penerbit PT Gramedia Jakarta,1988,halaman 25-33





Naskah Drama 12

“WEWE GOMBEL”
M.S. Nugroho

Karakter : WEWEGOMBEL, GONDORUWO, BELA, MAMA, ORANG-ORANG,
ANAK-ANAK

01. Senja hari, di atas pohon besar, mengerikan
WEWEGOMBEL, GONDORUWO

Dalam bayangan hitam, WEWEGOMBEL menangis sedih.

GOMBEL : Ruwo... malam datang lagi. Malam datang lagi.
RUWO : Malam akan selalu datang, Gombel...
GOMBEL : Malam akan selalu menyiksaku, Ruwo. Malam akan membuatku kesepian.
RUWO : Tidak, Gombel. Aku akan menemanimu. Aku akan selalu di dekatmu.
GOMBEL : Ya, dan tanpa anak.
RUWO : Maafkan aku, Gombel. Aku tidak bisa memberi yang kau inginkan.
GOMBEL : Ratusan tahun aku menunggu. Sampai kapan lagi aku sanggup menunggu
seorang anak menghiburku.
RUWO : Inilah nasib kita, Gombel. Ratusan tahun usia kita. Kita tidak perlu anak
untuk melanjutkan hidup kita. Kitalah yang mendampingi sang waktu.
Malam bukanlah kesedihan kalau kita bersabar.
GOMBEL : Aku tidak bisa bersabar lagi, Ruwo. Setelah ratusan tahun kata sabar jadi
tidak bermakna. Ayolah, kita akan dapatkan anak yang manis.

WEWE GOMBEL terus merajuk. Kemudian percakapan terhenti karena sayup terdengar anak belajar bernyanyi.


02. Malam hari, di dalam rumah terang dan bersih, pinggiran kota.
BELA, MAMA

BELA sedang belajar di kamar atas; di ruang tamu MAMA lelah sepulang kerja.

BELA : (Menyanyi) Kasih ibu kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
hanya memberi tak harap kembali
bagai sang surya menyinari dunia.

MAMA : Bela, berisik. Mana air untuk Mama?
BELA : Iya, Ma. Sebentar.

MAMA berolah raga sekedarnya dan menyalakan lampu teras. BELA turun membawakan air hangat. Mama menyentuh air langsung marah.

MAMA : Terlalu panas, Goblok. Kau mau merebus Mama! Kurang ajar!

MAMA memukuli BELA dengan handuk. BELA cepat-cepat mengambil air sambil menangis.

BELA : Maaf, Ma. Bela tambahkan air dingin dulu.

MAMA mengumpat seraya menyalakan televisi dan memencet-mencet remot. BELA mengurut kaki Mama sambil terus menangis.

MAMA : (Mentertawakan acara televisi) Bela, sudah. Diam. Tidak kau lihat
Mama sedang menonton sinetron*).


03. Malam yang sama, di halaman rumah. Gembira.
ANAK-ANAK, BELA, MAMA

Anak-anak bermain-main. Gembira sekali. BELA mengintip dari jendela atas. Anak-anak memanggilnya. BELA takut dan ragu-ragu tetapi keluar juga melalui jendela.
Semua bermain lebih seru. Tiba-tiba MAMA keluar membawa sapu dan berteriak-teriak.

MAMA : Hei, bubar. Tidak punya rumah apa. Malam-malam begini ribut saja.
Diculik Wewe Gombel, tahu rasa kalian!

ANAK-ANAK menyoraki. MAMA melempari anak-anak sesuatu. ANAK-ANAK bubar. BELA sendirian.

BELA : (Berbisik) Teman-teman kalian di mana? Aku ikut.

BELA mencari-cari teman-temannya. BELA tersesat.

BELA : (Berteriak) Teman-teman kalian di mana! (Terkejut) Lho, aku sekarang
di mana, ya?


04. Malam semakin larut. Di bawah pohon. Mistis.
BELA, WEWE GOMBEL

BELA menangis sendiri. GOMBEL menari-nari menarik perhatian BELA.

GOMBEL : (Mengeluarkan boneka cantik) Bela... Bela... Ini Ibu punya. Kamu mau
boneka?
BELA : Siapa k-kamu...
GOMBEL : (Menyerahkan boneka) Terimalah. Jangan takut. Cantik, bukan? Ciumlah.

Setelah mencium boneka, BELA pingsan. GOMBEL membawa BELA sambil menari-nari gembira.


05. Malam yang sama, di teras rumah, cemas.
MAMA, ANAK-ANAK, ORANG-ORANG
ANAK-ANAK memanggil-manggil BELA.

ANAK-ANAK : Bela... Bela...

MAMA juga mencari BELA.

MAMA : Bela... Bela... Kamu di mana?

MAMA bertanya kepada Anak-anak melalui jendela.

MAMA : Kalian tahu di mana Bela?

ANAK-ANAK kaget dan takut.

ANAK : T-tidak. Kami tidak tahu.
ANAK-ANAK : (Kabur) Hii... Ada Wewe Gombel... (Tertawa)


MAMA : (Marah sambil melempar sesuatu) Dasar.... (Kembali mencari Bela)
Bela... Bela... Kamu di mana? (Menangis, cemas) Jangan kau
tinggalkan Mama sendiri. (Kepada orang-orang) Tolong. Tolong!
Bela hilang.

ORANG-ORANG berdatangan. MAMA cemas.

ORANG : Ada apa, Bu?
MAMA : Bela hilang.
ORANG TUA : Bela pasti diculik Wewe Gombel. Ini saat Wewe Gombel mencari mangsa.
ORANG : Wewe Gombel?
ORANG TUA : Ya, Wewe Gombel. Hantu Penculik Anak.
MAMA : Tidak, jangan mengada-ada, Pak Tua.
ORANG TUA : Tidak, ini benar. Kemarin malam aku mendengar tangisnya.
ORANG : Hii... Kudukku jadi merinding.
ORANG TUA : Tapi jangan khawatir, Wewe Gombel sangat senang mendengar bunyi-
bunyian alat dapur.
ORANG : Wewe Gombel menganggap bunyi-bunyian itu adalah panggilan untuk
menari-nari.
ORANG TUA : Kalau dia sedang menari-nari, tentu pegangan kepada Bela terlepas.
Itu kesempatan kita mengambil Bela kembali.
ORANG : Mari kita bergerak sekarang.
ORANG : Ayo berangkat!
ORANG : Hancurkan Wewe Gombel!

ORANG-ORANG pergi dipimpin PAK TUA. MAMA menangis sendiri. Udara bertiup kencang sekali.

MAMA : (Kedinginan) Udara dingin sekali. Bela kau di mana? Mengapa kau pergi?
Ya, ya. Tentu kau marah kepada Mama. Maafkan aku, Bela. Mama
menyesal. Mama tidak akan bersikap kasar lagi, Bela. Bela pulanglah.
Di sinilah rumahmu.


06. Malam, di atas pohon besar, mistis.
WEWEGOMBEL, GONDORUWO, BELA

GOMBEL : (Tertawa gembira) Ruwo, Ruwo... Lihatlah, kita dapat anak yang manis.
Kemarilah....
RUWO : (Kaget dan sedih) Kau menculik anak lagi, Gombel?
GOMBEL : Aku tidak menculik! Aku menyelamatkan anak ini. Namanya Bela.
RUWO : (Melihat BELA) Menyelamatkan bagaimana? (Cemas) Dia pingsan?
GOMBEL : Dia sangat menderita. Ibunya kasar, suka membentak dan memukul.
Teman-temannya juga meninggalkannya.
RUWO : Tapi dia manusia. Dia bukan jenis kita.
GOMBEL : Kita bisa menyenangkannya. Dan kesenangan Bela adalah kebahagiaan
kita. Kita tidak akan kesepian lagi, Ruwo.
RUWO : Ya. Kita tidak akan kesepian lagi.
GOMBEL : (Menaburkan sesuatu) Bela... bangun....
RUWO : Rasanya hidup kita begitu cepat berubah, Gombel.
BELA : (Bangun) Siapakah Ibu ini?
GOMBEL : (Tersenyum) Aku ibumu.
BELA : Ibu?
GOMBEL : Ya, Ibu Gombel. Dan itu bapakmu. Bapak Ruwo.
RUWO : (Haru) Ya, Anakku.
BELA : Ini di mana?
GOMBEL : Di mana? Ini rumahmu sendiri. Ayo main.

Mereka bermain-main kuda-kudaan dst. Mereka menyanyi gembira sekali.

07. Malam, di bawah pohon besar, mistis.
WEWEGOMBEL, GONDORUWO, BELA, ORANG-ORANG,
ANAK-ANAK, MAMA

Orang-orang membunyikan alat-alat dapur berkeliling kampung dipimpin PAK TUA. Mereka membawa obor dan senjata sambil memanggil-manggil BELA. WEWEGOMBEL dan GONDORUWO ikut menari mengikuti orang-orang.
BELA tidak merasa kalau sudah ditinggalkan WEWEGOMBEL

BELA : Ayo main, Ibu Gombel. Ibu di mana? (Setengah sadar) Aku ini di mana?
Bapak Ruwo? Ibu? Ibu...
MAMA : (Datang dan memeluk Bela) Bela, anakku.
BELA : (Melepaskan pelukan) Siapa kamu?
MAMA : Bela, jangan katakan begitu, Anakku. Aku mamamu.
BELA : Mama? Mama itu jahat. Mama suka membentak dan memukul.
MAMA : Tidak, Sayang. Mama sayang kamu. Mama akan bersikap lembut.
BELA : Mama lebih sayang televisi daripada Bela.
MAMA : Tidak, Sayang. Lihatlah, Mama. Hanya kaulah yang Mama sayang.
Mama sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Ayo, peluk, Mama, Sayang.
(berpelukan)
BELA : Lepaskan... (Berlari pergi)
MAMA : (Mengejar) Bela, kembali. Mama akan berubah, Bela.
BELA : (Kembali sambil menggendong boneka) Mama, Bela pulang.
MAMA : (Marah dan menjewer telinga Bela) Bikin repot saja. Ayo, cepat!

BELA menangis kesakitan. WEWEGOMBEL menangkap tangan BELA. Terjadi tarik menarik antara WEWEGOMBEL dan MAMA.

MAMA : Kau siapa. Ini anakku.
GOMBEL : Bela ini milikku. Dia sudah menjadi anakku.
BELA : (Menangis) Ibu...
MAMA : Kau mengerikan. Lepaskan. Jangan sentuh.
GOMBEL : Kau jahat. Kau menyia-nyiakannya.
MAMA : Akulah mama yang melahirkannya.
BELA : (Menangis) Mama...
GOMBEL : Akulah yang menyayanginya.
MAMA : Kau berbohong. Kau menculiknya. (Berteriak) Tolong... Wewe Gombel
di sini! Wewe Gombel merebut anakku!

BELA menangis. ORANG-ORANG datang. Mereka menyiapkan senjatanya masing-masing.

ORANG TUA : Gombel, lepaskan. Sekarang enyahlah dari sini!

ORANG TUA menusuk WEWE GOMBEL dengan keris. WEWE GOMBEL perutnya terluka. Pegangannya terlepas. BELA terjatuh dan pingsan. ORANG-ORANG mengangkat BELA. GONDORUWO menyerang ORANG-ORANG tetapi keris PAK TUA telah bersarang pula di dadanya.

ORANG-ORANG: (Bersorak) Enyahlah Wewe Gombel. Kita dapatkan Bela! Kita dapatkan
Bela! Hidup Pak Tua.

Orang-orang pergi dengan puas dan penuh kemenangan. ANAK-ANAK melempari WEWE GOMBEL dengan batu dan menusuk-nusuk dengan kayu. WEWE GOMBEL kesakitan dan sangat sedih.

ANAK-ANAK : Gombel penculik anak. Gombel-gombel.
ANAK-ANAK : Gombel tak punya anak. Gombel-gombel.
ANAK-ANAK : (Mengejek) Aduh, kasihan. (Tertawa-tawa)
GOMBEL : Anak-anak, aku mendambakan seorang anak. Mengapa kalian
memusuhiku? Aku sayang kepada kalian, mengapa kalian jahat kepadaku.
(Menarik seorang anak dan memeluknya) Apakah yang kalian butuhkan
melebihi kasih sayang? (Membelai dengan lembut) Kau mau menjawab,
Manis?

ANAK itu meludahi WEWE GOMBEL. WEWE GOMBEL marah. Wajahnya dibuat sangat mengerikan. Anak-anak lari ketakutan.

GOMBEL : Kalian anak-anak nakal!

WEWE GOMBEL terjatuh dan batuk-batuk. Tubuhnya terasa sakit.


08. Malam yang sama, di depan rumah. Hidmat
ORANG-ORANG, BELA

ORANG-ORANG menyerahkan BELA yang masih pingsan kepada MAMA. ORANG-ORANG sibuk menyadarkan BELA.

ORANG TUA : (Berpidato) Bapak Ibu sekalian. Telah terbukti bahwa Bela telah diculik
Wewe Gombel. Ini berarti bahwa anak-anak kita dalam keadaan tidak
aman. Kita harus setiap saat menjaga dan melindungi anak-anak kita.
Malam ini kita bersama bisa atasi. Kita harus waspada juga untuk malam-
malam nanti. Hari ini seorang anak diculik Wewe Gombel, mungkin
besok oleh yang lainnya. Atau bahkan, maaf, oleh diri kita sendiri karena
kita kadang telah menculik dunia anak-anak menjadi dunia orang dewasa.

Tiba-tiba BELA berteriak-teriak seperti kesurupan. ORANG-ORANG berlarian menolong.

BELA : Mana jalannya? Siapa orang tuaku? Siapa guruku? Siapa aku?
MAMA : Bela kau berkata apa? Ini Mama, Sayang?
BELA : (Tertawa) Apa yang telah kau lakukan padaku? Apa kewajibanmu?
Mana punyaku? (Menangis) Aku tidak mau dipaksa. Aku tidak mau
dibiarkan.
MAMA : Bela, sadarlah. Lihatlah, semua orang melihatmu.
ORANG TUA : (Mengucap mantra) Sss. Bumi berkata langit mendengar, udara mengingsut
pepohonan bergetar, air memercik cahaya terlempar. Tuangkan dalam
darah, jerang dalam pikiran, seduh dalam hati.

BELA langsung tertidur. ORANG TUA memijit kening dan tengkuknya.

ORANG TUA : Hatinya masih terguncang. Pikirannya tegang. Jiwanya terombang-ambing
dalam gelombang besar yang membingungkan. Sekarang semua tenanglah.
Pulanglah, lihat anak kalian sendiri. Barangkali ada yang belum di rumah.
Jaga mereka, jangan lengah.

Semua pergi.


09. Malam kedua, di bawah pohon besar, mistis
WEWEGOMBEL, GONDORUWO, BELA, MAMA

GOMBEL : (Menangis) Bela, engkau anak yang manis. Anakku.
RUWO : Bela telah pulang kepada mamanya. Relakanlah.
GOMBEL : Bela, kau tinggalkan Ibu, Sayang.
RUWO : Sabarlah. Manusia perlu anak karena usia mereka singkat. Mereka
melanjutkan hidup mereka dengan beranak pinak. Kita melanjutkan
hidup kita dengan umur kita yang panjang.
GOMBEL : Aku juga ingin punya anak. Aku ingin anak! (Berpelukan)

Terdengar suara BELA membaca buku pelajaran.

MAMA (VO) : (Memukul-mukul meja) Diam. Diam. Berisik. Sinetronnya*) sudah
mulai!
BELA (VO) : Besok ada ulangan, Mama.
MAMA (VO) : Cerewet. Kau dengar tidak, Mama sedang nonton televisi!

MAMA melempar sesuatu. BELA mengaduh kesakitan. Tangis WEWE GOMBEL makin keras. WEWE GOMBEL hendak mendatangi BELA tetapi dicegah RUWO.

GOMBEL : Anakku. Aku tak tahan lagi.
RUWO : Adat manusia memang begitu, Gombel. Kita hanya bisa menonton.
GOMBEL : Betapa sedihnya, Ruwo.
RUWO : Tutup matamu, tutup juga telingamu, Gombel.
BELA : (Datang) Ibu Gombel... Aku datang...
RUWO : (Memberi isyarat kepada Bela supaya pergi) Sss...
BELA : (Malah tersenyum menggoda) Ibu Gombel, Bapak Ruwo, aku di sini!
GOMBEL : (Membuka mata. Kaget dan senang. Memeluk Bela) Anakku... Aku
merindukanmu.
BELA : Ibu, Bela mau di sini saja. Aku takut. Mama jahat. Mama...
GOMBEL : (Berusaha marah) Tidak. Pulanglah. Mamamu menunggumu. Dialah
mamamu yang sesungguhnya.
BELA : Tidak. Bela sayang Ibu. Bela mau bersama Ibu Gombel saja.
GOMBEL : (Mengubah wajahnya menjadi sangat mengerikan) Lihatlah. Aku akan
lebih jahat lagi. Aku akan memukulimu. (Memukul dengan keras)
Kembalilah kepada mamamu lagi! Pulang!
BELA : (Kaget, tidak percaya) Ibu Gombel jahat. Ibu Gombel jahat!

BELA melempar WEWE GOMBEL dengan boneka lalu menangis pergi. WEWE GOMBEL tertawa mengerikan, sebentar kemudian menangis sedih sekali. WEWE GOMBEL memungut boneka.

GOMBEL : (Kepada boneka) Maafkan aku Bela. Kau tidak akan mengerti. Aku sangat sayang kepadamu. Aku terpaksa melakukan ini.
RUWO : Sudahlah, kau telah melakukan yang seharusnya.
GOMBEL : Ruwo, ini siksaan tak ada habisnya. Kita adalah korban nasib terabaikan.
RUWO : Betapa sengsaranya hidup ini. Umur panjang kita adalah kutukan.


10. Malam kedua. Di bawah pohon besar. Sedih.
WEWEGOMBEL, GONDORUWO

Tiba-tiba GONDORUWO tertawa dan menangis hebat. WEWE GOMBEL kaget dan memukul GONDORUWO keras-keras.

GOMBEL : Ruwo, apa-apaan kau ini. Sudah, diam. Jangan mengundang orang-orang
untuk membunuh kita.
RUWO : (Marah dan mencabut keris di dadanya) Lebih baik mereka membunuhku.
Biarkan aku mati. Aku tidak berguna lagi.
GOMBEL : Ada apa kau ini. Ini adalah kelangsungan hidup kita.
RUWO : Yang kau pikirkan cuma anak. Anak yang tak akan pernah menjadi milik
kita. Sementara aku yang beratus-ratus tahun mencintaimu, kau abaikan
begitu saja. Apakah ini tidak sangat menyedihkan?

Darah GONDORUWO meleleh dari dadanya, lalu terjatuh lemah.

GOMBEL : (Memeluk) Maafkan aku, Ruwo. Maafkan aku. Susah payah aku
menginginkan seorang anak di dekapku.Tapi aku tak sadar ternyata
sesungguhnya, kaulah yang kucari. (Membuang boneka) Kasih sayang.
Kaulah cintaku, Ruwo. Lihatlah kepadaku. Aku menyesal telah
melupakanmu. (Menangis sedih sekali.)
RUWO : Sekarang, senyumlah, Sayang. Kita akan bahagia, Gombel. Selamanya.
Selama-lamanya.

WEWE GOMBEL tersenyum. Mereka bergandengan.

RUWO : Kau cantik sekali, Gombel.
GOMBEL : (Salah tingkah) Kau juga hebat, Ruwo.

Mereka tertawa. Lalu sejenak mereka diam.

GOMBEL : (Menghirup nafas panjang-panjang) Kau rasakah udara malam ini, Ruwo.
RUWO : Ya. Udara malam seperti udara malam yang kita hirup beratus-ratus tahun
yang lalu.
GOMBEL : Tetapi terasa lebih segar, lebih lembut, Ruwo.
RUWO : Ya, karena kita telah menemukan cinta kita.
GOMBEL : Bulan telah muncul, Ruwo. Malam ini indah sekali.

Mereka berpelukan.


11. Malam kedua, di dalam rumah, haru
BELA, MAMA

MAMA tertawa melihat pertunjukan lucu dari televisi. Tiba-tiba ada teriakan seorang anak. Mama kaget dan baru tersadar kalau BELA tidak ada. MAMA mencari-cari BELA di kamar atas. BELA tidak ada di rumah, MAMA cemas.

MAMA : (Turun dari tangga) Bela, kamu di mana? (Melihat televisi dengan
nyalang) Kaulah yang mencuri anakku. Jangan tersenyum. Kuhancurkan
kau.

MAMA menghajar televisi dengan sapu. Tampak percikan listrik dan kepulan asap.


MAMA : Kaulah Wewe Gombel, kaulah Wewe Gombel sebenarnya! (Memegang
puingan televisi) Kaulah yang menculik anak-anak di seluruh dunia.
Kaulah Wewe Gombel itu!

MAMA menangis, kecapekan, dan terduduk di lantai. Ia benar-benar merasa sendiri.

MAMA : Bela kau di mana? Pulanglah, anakku. Apa gunanya Mama bekerja setiap
hari, kalau tidak untuk kamu. (Menghamburkan tas berisi uang dan
tertawa) Apa gunanya Mama melanjutkan hidup kalau Mama menyia-
nyiakan kamu. Mama khilaf. Mama berdosa. Lihatlah wajah Mama
sebenarnya. Mama sangat sayang kepadamu. Engkaulah hidup Mama.
MAMA : (Tersenyum) Pandanglah hari-hari akan datang. Mama akan selalu ada
untuk kamu. Mama akan ada di sampingmu kalau kamu belajar. Waktu
Mama hanya untuk kamu. Bela, pulanglah. Mama menunggumu.
BELA : (Muncul di pintu) Benarkah itu Mama?
MAMA : Bela? (Berpelukan) Mama sayang kamu.
BELA : Bela juga sayang Mama.


12. Malam bulan purnama, di halaman rumah, gembira
SEMUA PEMAIN

Semua menyanyi dan menari.

Anak adalah amanat kehidupan
Anak adalah jiwa sang insan
Jagalah jagalah jagalah
Dengan sepenuh jiwa

Anak adalah senyum kehidupan
Anak adalah kita masa depan
Jagalah jagalah jagalah
Dengan kasih sayang.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Menghapus komentar sebelumnya? Saya tidak tau apa maksud Bapak. Tapi bagaimanapun, saya akan menulisnya lagi. Saya akan mengetik ulang tentang apa yang saya ketik kemarin.

Saya pikir Bapak sudah memaklumi keadaan bahwa tidak semua anak tergolong 'mampu', jadi Bapak tidak lagi mengadakan ulangan online. Tapi sekarang Bapak malah menjadi lebih menyusahkan, mengetik berlembar-lembar naskah uji praktek dan mempostingnya disini. Ini benar-benar memprihatinkan.

Mungkinkah Bapak berpikir bahwa Bapak mendapat kesan 'gaul' dan 'keren' karena menggunakan internet sebagai media belajar online? Saya pikir begitu. Tapi sebenarnya tidak, tidak sama sekali. Bapak benar-benar menimbulkan kesan kampungan, kalau menurut saya. Membuat satu akun tiap satu periode, sehingga selalu ada akun-akun baru dan melupakan yang lama; mengabaikannya dan tidak mengurusnya. Ini benar-benar kampungan; seorang pengguna internet profesional cukup membuat satu atau dua akun, dan rutin mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat. Tidak seperti Bapak, yang sibuk membuat akun sana-sini dan hanya mengisinya dengan satu atau dua postingan. Dan dengan sombongnya tidak memfollow balik akun-akun yang sudah memfollow Bapak, seperti M. Risky C IX 1, saya sudah melihat bagaimana dia dengan murah hati memfollow akun Bapak.

Saya ingin beritahu Bapak satu kelemahan Bapak yang membuat Bapak tak pernah bisa menjadi maju dan semakin baik, yaitu TAK MAU DIKRITIK.

Dan entah Bapak menerimanya atau tidak, saya ingin memberikan satu kritik untuk Bapak:
" seorang guru yang baik
memberikan kemudahan bagi SELURUH muridnya,
bukan memberikan kemudahan bagi SEBAGIAN BESAR dari mereka "

TERIMAKASIH

Posting Komentar